Hidayatullah.com–Dewan Sensor China (SAPPRFT), mengumumkan melarang televisi yang menampilkan musik hip-hop dan melarang munculnya selebriti bertato.
“Secara khusus, program TV tidak boleh menampilkan aktor bertato (atau menunjukkan) budaya hip-hop, budaya sub-culture (budaya non-mainstream) dan budaya keputusasaan (kemunduran),” kata SARPPFT, regulator yang mengatur publikasi dan penyiaran di Tiongkok.
Gao Changli, direktur administrasi Departemen Publikasi, Dilansir dair time.com mengutip Sina, Senin (22/01/2018), mengedarkan 4 pantangan yang harus dipenuhi stasiun TV pada Jumat lalu.
Pertama, tidak menggunakan aktor yang hati dan moralitasnya tidak sejalan dengan partai dan tidak memiliki moral yang mulia.
Kedua, tidak menggunakan aktor yang berselera rendah, vulgar dan cabul.
Ketiga, tidak menggunakan aktor yang tingkat ideologinya rendah dan tidak berkelas.
Keempat, tidak menggunakan aktor yang ternodai dengan skandal dan integritas moral bermasalah.
Larangan yang dibuat menyusul pemecatan Rapper GAI terkenal dari acara di Hunan TV, Singer. Video klip GAI yang bernama asli Zhou Yan, juga dihapus dari saluran resmi Youtube China Hunan TV.
Selain Zhoum rapper bernama Wang Hao alias PG One, dipaksa meminta maaf setelah lagunya, “Malam Natal” dikritik karena dianggap menampilkan budaya narkoba dan melecehkan wanita.
Menurut Tecent News, Rapper Mao Yanqi alias VaVa, juga dipecat dari acara hiburan Happy Camp. Musik rap dari rapper Triple H yang berpengaruh juga telah dihapus dari situs penyedia musik yang utama.
Mereka diduga menunjukkan sikap dan selera yang buruk dan mempromosikan konten yang bertentangan dengan tradisi dan prinsip Partai Komunis.
Sebelumnya, tahun 2016, media pemerintah China menggunakan lagu rap untuk mempromosikan teori Komunis kepada anak muda, tulis Daily Mail.
Single yang disebut ‘Karl Marx adalah post-90’, dilakukan oleh sekelompok rapper modis dan dikhususkan untuk Karl Marx buku The Communist Manifesto.
Otoritas Komunis China juga telah merilis sebuah video rap informatif terutama bagi orang asing sebagai informasi pada mereka tentang ‘orang asli China’.*