Hidayatullah.com–“Didiklah generasi kita seperti ‘singa’, jangan seperti ‘babi’,” kata pakar peradaban dari Malaysia, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud.
Hal ini disampaikan dalam diskusi cendekiawan dan praktisi pendidikan dari Komunitas Pecinta Ilmu (KOPI) yang berkunjung ke rumahnya di daerah Kajang, Kuala Lumpur, Ahad, (21 Januari 2018).
Prof Wan –sapaan akrabnya—lebih lanjut menjelaskan, singa itu jika mengaum, maka seluruh hewan akan ketakutan. “Bahkan ketika kakinya tertusuk duri (dan tidak bisa mengejar mangsa) lalu mengaum, maka semua haiwan masih sangat takut. Padahal dia tak upaya memangsa, namun dikarenakan tertusuk duri,” ujarnya.
“Singa itu kalau beranak tidak banyak, paling cuma 2 hingga 4 ekor. Tetapi meskipun sedikit, itu tetap membuat gentar,” ujar pendiri Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia ini.
Apa bedanya dengan babi? “Kalau beranak banyak, tapi tidak berkualitas dan hanya bisa berkerumun, tidak menimbulkan rasa takut musuh-musuhnya,” ujarnya sambil tertawa.
Doktor lulusan Universitas Chichago (Amerika Serikat) ini memaparkan bahwa ajaran Islam ini amatlah luar biasa. Itulah sebabnya jika umat Islam mempunyai worldview yang benar dan beradab mulia, maka akan mudah melahirkan generasi singa.
Masalahnya, banyak di antara umat Islam yang lebih silau dengan worldview Barat yang sekular dan dualis. Sebagian lagi confused (kebingungan) dan hanya mengamalkan ajaran Islam sesuai keinginan nafsunya saja. Rendah adabnya. Akibatnya, Islam saat ini belum bisa tampil menjadi singa.
“Umat Islam ini sesungguhnya punya banyak obat, namun seringkali tidak bisa mendiagnosis penyakit sehingga salah dalam memberikan obat,” kata cendekiawan yang gemar bersyair ini.
Agar mampu melahirkan generasi singa, Prof Wan menyarankan kepada para pendidik, ustadz, guru, dan juga orangtua agar mengedepankan adab dan ikhlas.
“Sekarang ini terjadi loss of adab dan keruntuhan akhlaq. Ajaran Islam lebih mengutamakan fiqih sehingga kita ramai berbicara tentang itu saja. Padahal Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassallam diutus untuk menyempurnakan akhlaq,” ujarnya.
Sementara cendekiawan pendiri KOPI, Dr Adian Husaini, menambahkan bahwa sosok guru di masa kini semestinya bukan hanya menjadi “tukang mengajar”. Bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban, memenuhi keperluan administratif, dan mencari penghasilan.
“Juga harus berusaha meningkatkan kualitas keilmuan. Janganlah bertahun-tahun mengajar itu-itu saja, meskipun muridnya berganti-ganti,” ujarnya.
Baca: Prof Wan Mohd Nor Wan Daud: Mengkritik Barat Tak Berarti Anti Barat
Menurut penulis produktif ini, sosok guru, ustadz, atau pendidik mestinya menjadi mujahid intelektual.
“Harus terus meng-upgrade diri sehingga anak didik yang dihasilkan pun semakin berkualitas. Inilah generasi singa, sebagaimana yang disebut oleh Prof Wan.”
Adian Husaini dan para cendekiawan pekan lalu mengadakan Rihlah Ilmiah ke Malaysia. Mereka berkunjung ke beberapa institusi pendidikan tinggi seperti ke CASIS-UTM, ISTAC, mengikuti seminar dan diskusi ilmiah bersama para profesor, masjid-masjid, serta berkunjung ke rumah cendekiawan seperti Prof Wan Mohd Nor Wan Daud.*/PAM