Hidayatullah.com—Para pekerja yang menangani sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) yang dipenuhi tikus di pinggiran ibukota Beograd menghadapi dua bahaya kesehatan, dari sampah itu sendiri dan dari aliran limbah di kanal yang memasuki badan Sungai Danube.
TPS seluas 2 kilometer persegi di pinggiran ibukota itu menjadi simbol tantangan yang dihadapi Serbia dalam memenuhi target prosedur lingkungan dan emisi gas sebagai syarat masuk persekutuan Uni Eropa. Serbia, yang berencana bergabung dengan UE pada 2025, saat ini memproses kurang dari 10 persen air limbahnya. Dua kota terbesar di Serbia, Beograd dan Novi Sad, membuang air limbah langsung ke dalam Sungai Danube dan Sava dan negara itu memiliki TPS tak teregulasi dalam jumlah terhitung.
Sampah yang belum dikelola dengan baik itu membuka peluang investasi.
“Untuk pengolahan sampah rumah tangga dan beracun kami melihat peluang investasi sekitar 2 miliar euro dan … sekitar 5 miliar euro untuk pengolahan air limbah,” kata Menteri Lingkungan Goran Trivan kepada Reuters (1/3/2019).
Menurutnya, saat ini investasi masih berjalan lambat, tetapi dengan peningkatan di bidang legislasi, “peluang investasi terbuka lebar,” imbuhnya. “Kami harus membangun lebih dari 300 fasilitas pengolahan air limbah.”
Serbia mengatakan bahwa negaranya tidak akan dapat memenuhi target lingkungan dan perubahan iklim yang ditetapkan UE dan telah mengajukan masa transisi 11 tahun untuk mengejar target itu jika sudah diterima menjadi anggotanya.
Negara tetangganya Kroasia, yang bergabung dengan UE pada tahun 2013, sudah meminta perpanjangan waktu sampai 2025.
Tahun lalu, lembaga penasihat pemerintah untuk urusan fiskal mengatakan bahwa Serbia harus menginvestasikan 1,3 persen dari GDP-nya untuk mengatasi masalah lingkungan, atau naik dari 0,7 persen saat ini. Kebanyakan negara lain di Eropa bagian tengah dan timur menggunakan sekitar 2 persen GDP untuk anggaran lingkungan hidup.
Target jangka menengah Uni Eropa adalah mendaur ulang 50 persen sampah rumah tangga pada 2020 dan sekitar 65 persen pada 2035, mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPS menjadi kurang dari 10 persen.
Saat ini Serbia hanya mendaur ulang sekitar 3 persen sampah rumah tangga dan paling banyak 40 persen sampah kemasan. Angka itu jauh dari 65 persen yang disyaratkan UE pada tahun 2025, kata Kristina Cvejanov, direktur perusahaan manajemen sampah EkoStarPak di Beograd.
Menurut wanita itu, rakyat Serbia kurang kesadaran dan pengetahuannya soal penanganan sampah. Selain masalah regulasi dan penegakan hukum yang minim, anggaran untuk bidang itu juga sangat kecil. Para pelanggar undang-undang berkaitan dengan sampah dan limbah biasanya melenggang bebas tanpa ada sanksi.*