Hidayatullah.com—Hari Rabu pagi (5/8/2020) asap masih tampak naik ke langit sementara petugas penyelamat Libanon mencari korban ledakan dahsyat yang mengguncang ibu kota Beirut hari Selasa, yang menewaskan seratusan orang dan melukai ribuan lainnya.
Dilansir RFI, sedikitnya 100 orang telah dipastikan tewas dan lebih dari 4.000 orang lainnya terluka setelah serangkaian ledakan besar yang terjadi di sebuah gudang di pelabuhan mengguncang Beirut seperti kiamat.
Sebagian besar jalan di pusat kota dikotori oleh serpihan dan reruntuhan bangunan, serta kendaraan yang rusak. Banyak bangunan yang kehilangan fasadnya.
Tidak jelas apa yang memicu ledakan tersebut. Presiden Libanon Michel Aoun mengatakan bahwa 2.750 ton amonium nitrat, biasa digunakan sebagai bahan pupuk dan untuk membuat bom, disimpan di gudang pelabuhan tanpa prosedur keselamatan yang memadai, dan mengatakan hal itu “tidak dapat diterima”.
Dilansir BBC, para pejabat mengatakan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk mengetahui pasti apa yang menyebabkan meledaknya ribuan ton amonium nitrat itu, yang kabarnya disimpan di gudang setelah dibongkar dari sebuah kapal yang merapat di pelabuhan itu pada tahun 2013.
Amonium nitrat merupakan bahan kimia yang penggunaan utamanya adalah sebagai pupuk dalam pertanian. Bahan kimia itu juga merupakan salah satu komponen utama untuk bahan peledak yang biasa dipakai dalam pertambangan. Secara mandiri amonium nitrat bukanlah bahan yang mudah meledak, bahan itu bisa meledak hanya dalam keadaan tertentu yang tepat saja. Ketika meledak, amonium nitrat melepaskan gas beracun termasuk gas amonia dan nitrogen oksida. Tempat penyimpanan bahan ini harus tahan api, tidak boleh ada selokan, pipa atau saluran lain yang dapat menjadi tempat bubuk amonium nitrat tersumbat menumpuk.
Bekas agen intelijen Inggris Philip Ingram mengatakan kepada BBC bahwa amonium nitrat dapat meledak dalam kondisi tertentu saja. Apabila disimpan di tempat tertutup bahan kimia itu relatif aman. Namun, jika amonium nitrat terkontaminasi atau tercampur dengan bahan bakar minyak, maka dapat meledak.
Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon mengatakan para pelaku yang bertanggung jawab terhadap ledakan itu akan dipastikan mendapat hukuman seberat mungkin.
Ledakan terjadi ketika Libanon selama beberapa pekan terakhir mengalami ketegangan. Aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan orang berkali-kali terjadi. Rakyat turun ke jalan sebab mereka sudah muak dengan pemerintah yang dianggap tidak dapat mengatasi krisis ekonomi berkepanjangan dan ditambah krisis akibat pandemi Covid-19.
Lokasi ledakan terletak tidak jauh dari lokasi bom mobil yang menewaskan mantan perdana menteri Rafik Hariri pada tahun 2005. Empat orang terdakwa saat ini sedang menjalani sidang di pengadilan khusus di Belanda, dengan tuduhan bekerja sama melakukan serangan dan menghilangkan nyawa Rafik Hariri. Persidangan itu akan segera berakhir.
Selain sedang mengalami keruwetan krisis kesehatan, ekonomi dan politik serta pertikaian sektarian, Libanon juga sedang bersitegang dengan Israel yang berupaya memperluas wilayah jajahannya.
Seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada BBC bahwa “Israel tidak ada hubungannya” dengan ledakan di Beirut itu.*