Hidayatullah.com– Kepala Kepolisian Nasional Jepang Itaru Nakamura mengatakan akan mengundurkan diri untuk mempertanggungjawabkan kelalaian petugas yang menyebabkan kematian eks perdana menteri Shinzo Abe.
Penyelidikan atas peristiwa penembakan Abe pada 8 Juli menunjukkan adanya ketidakberesan serius berkaitan dengan perlindungan untuk bekas PM Jepang tersebut.
Sebagaimana diketahui Abe ditembak mati saat berpidato di pinggir jalan dalam rangkaian kampanye politik di kota Nara.
Pelaku, seorang pria berusia 41 tahun, dengan sangat mudah berjalan mendekati Abe dari belakang dan menembakkan senjata api rakitan buatannya sendiri.
Politisi kawakan berusia 67 tahun itu menderita dua luka tembak di lehernya dan kerusakan di jantungnya, kata dokter.
Polisi setempat mengakui kelemahan “tak terbantahkan” terkait keamanan untuk Abe.
“Dalam proses verifikasi rencana keamanan baru, kami menyadari bahwa tugas keamanan kami akan membutuhkan awal yang baru,” kata Nakamura dalam konferensi pers saat mengumumkan pengunduran dirinya seperti dilansir BBC Kamis (25/8/2022).
Sebagai seorang bekas kepala pemerintahan terlama di Jepang, pengamanan untuk Shinzo Abe terkategori sangat minim.
Pakar-pakar keamanan yang menelaah rekaman video peristiwa itu pernah mengatakan kepada Reuters bahwa petugas pengawalan seharusnya bisa menyelamatkan Abe dengan cara menyeretnya keluar dari bidikan tembakan dalam 2,5 detik antara tembakan pertama yang luput dengan tembakan kedua, yang berakibat fatal.
Pelaku penembakan, Tetsuya Yamagami, dengan mudah ditangkap di tempat kejadian karena tidak berupaya melarikan diri dan mengaku menembak Abe.
Dia mengaku bahwa dia sengaja menarget Abe karena bekas PM itu terkait dengan sebuah gereja (kelompok keagamaan) yang menurut Yamagami telah menghancurkan ibunya secara finansial.*