Hidayatullah.com—Perang papan reklame di Hungaria mengundang keprihatinan, pasalnya menyangkut masalah imigran yang sekarang sedang menjadi masalah di negara-negara Eropa.
Pemerintah Hungaria telah memasang papan-papan peringatan, dalam bahasa setempat, yang isinya mewanti-wanti agar para pengungsi tidak mencuri pekerjaan orang-orang Hungaria. Pihak oposisi yang berseberangan dengan pemerintah kemudian membalasnya dengan memasang papan-papan reklame, dalam bahasa Inggris, yang isinya menyambut kedatangan orang-orang ke negeri itu.
Beberapa pekan terakhir, negara di Eropa tengah itu meningkatkan retorika anti-imigrasinya seiring dengan membengkaknya jumlah pencari suaka di benua itu.
Sejumlah aktivis telah ditangkap karena mencorat-coret papan-papan reklame anti-imigran yang dipasang pemerintah.
Selain itu penguasa setempat juga telah meminta agar dilakukan survei baru atas pesanan pemerintah tentang ‘imigrasi dan terorisme’, yang sepertinya mengaitkan imigrasi dengan aksi terorisme.
Survei tersebut memuat pertanyaan-pertanyaan yang diatur sedemikian rupa, seperti “Apakah Anda setuju dengan pemerintah Hungaria bahwa kita, daripada mendukung imigran, seharusnya mendukung keluarga dan anak-anak mereka yang akan lahir (generasi penerus, red)?”
Jurubicara pemerintah Hungaria, Zoltan Kovacs, menjelaskan tentang sikap Budapest dalam hal imigrasi.
“Kami hanya ingin tahu tentang apa menurut rakyat tentang masalah politik ini,” kata Kovacs seperti dikutip Euronews (10/6/2015). “Karena, suka atau tidak, imigrasi adalah masalah politik, baik di tingkat negara Hungaria, maupun Eropa.”
Sementara itu, Gergo Kovacs pemimpin dari sebuah kelompok kecil bernama Partai Anjing Berekor Dua, menentang papan reklame pemerintah itu.
“Papan-papan reklame itu membuat kami sangat marah, yang mana pemerintah menghabiskan uang rakyat untuk kampanye yang mengajak kita untuk membenci,” jelas Kovacs. “Menurut saya itu sangat tidak baik bagi Hungaria. Kami tidak ingin menunjukkan citra negara kami seperti ini. Kami ingin menunjukkan bahwa banyak orang yang berpikiran berbeda dengan pemerintah.”
Di antara negara-negara Uni Eropa, pada tahun 2014, Hungaria berada di peringkat kedua di bawah Swedia dalam jumlah permohonan suaka perkapita yaitu mencapai 43.000.
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban belum lama ini menyebut migrasi sebagai ancaman terhadap “peradaban Eropa.”
Orban bahkan beberapa waktu lalu juga mengusulkan agar dilakukan debat tentang perlunya menerapkan kembali hukuman mati di Hungaria.
Kebijakan-kebijakan Orban itu membuat anggota parlemen Eropa khawatir. Mereka akhirnya meloloskan sebuah resolusi tidak mengikat yang mengatakan bahwa Hungaria harus dipantau soal pelanggaran HAM serta hukum dan penerapannya.
Koresponden Euronews Andrea Hajagos menambahkan, “Banyak yang yakin tujuan pemerintah sebenarnya adalah untuk memenangkan kembali suara dukungan yang hilang, yang meninggalkan mereka demi kelompok sayap kanan-jauh Partai Jobbik. Namun menurut sejumlah analis, partainya Orban, Fidesz, justru akan kehilangan suara karena kampanyenya itu.”*