Hidayatullah.com– Seorang legislator dari Bharatiya Janata Party (BJP) membuat sebuah pernyataan kontroversial yang melarang warga untuk tidak membeli sayuran dari umat Muslim India meskipun di tengah-tengah lockdown nasional. Legislator bernama Suresh Tiwari dilaporkan telah meminta warga di distrik Deoria untuk tidak membeli sayuran dari pedagang Muslim. Pernyatanya melalui sebuah video itu viral di media sosial.
“Ingat satu hal, saya memberi tahu semua orang secara terbuka, tidak ada yang harus membeli sayuran dari Muslim,” katanya kepada beberapa orang, termasuk pejabat pemerintah pada hari Selasa, dilansir laman indianexpress.com.
Suresh Tiwari merupakan anggota dewan dari partai nasionalis Hindu yang berkuasa, dari asal pemilihan Kota Deoria, negara bagian utara Uttar Pradesh.
BJP MLA Suresh Tiwari told people in Deoria district not to purchase vegetables from Muslim vendors.
"Keep one thing in mind, I am telling everyone openly, no one should purchase vegetables from Miyas [Muslims]," he is seen telling people, including govt officials. pic.twitter.com/1K8YkSFBez
— Mohammed Zubair (@zoo_bear) April 28, 2020
Ketika dihubungi, Tiwari mengatakan telah membuat pernyataan itu minggu lalu, selama kunjungannya ke kantor Barhaj Nagar Palika, di mana beberapa pejabat pemerintah ikut hadir.
“Setelah mendengar keluhan bahwa orang-orang dari suatu komunitas tertentu telah menjual sayuran setelah mencemarinya dengan air liur dalam upaya untuk menyebarkan penyakit virus corona, saya menyarankan mereka untuk tidak membeli sayuran dari mereka,” begitu tuduhnya.
Menyusul laporan penyebaran Covid-19 dan adanya beberapa anggota Jamaah Tabligh positif Covid-19 dalam sebuah acara ijtima’ di New Delhi bulan, Muslim India kena imbasnya. Kaum Muslim telah menjadi sasaran di berbagai daerah. Beberapa politisi dan jurnalis dari BJP menggambarkan kasus Jamaah Tabligh sebagai “terorisme corona” dan menuduh komunitas Muslim yang telah menyebarkan virus.
Menurut Al Jazeera, seruan Tiwari untuk memboikot pedagang Muslim bukanlah insiden yang pertama. Sebuah kelompok sayap kanan India terlihat membagikan bendera berwarna oranye ke pedagang sayur di banyak tempat untuk memungkinkan konsumen mengidentifikasi mereka sebagai penjual beragama Hindu.
Sebuah lingkungan tertentu di New Delhi dan negara bagian lain termasuk Karnataka, Telangana, dan Madhya Pradesh juga memasang poster untuk menghentikan masuknya umat Islam. Mereka membuat larangan adzan di tempat ibadah Muslim. Beberapa masjid diserang karena mengumandangkan adzan.
Hari Selasa, sekelompok pria di distrik Gorakhpur Uttar Pradesh diduga merusak masjid dan menyerang seorang muazin. Kelompok tersebut tidak berhenti menyerang karena muazin tidak ingin berhenti untuk mengumandangkan adzan. Seorang muazin bernama Abdul Rahman, yang berusia 35 tahun mengalami luka ringan akibat sebuah insiden serangan.
Seorang juru bicara BJP, Rakesh Tripathi mengatakan, partai nya “tidak mendukung pernyataan seperti itu” dan akan mempertanyakan sang legislator atas ucapanya. Sementara itu, semua berita Radio India dalam sebuah unggahan di Twitter mengatakan BJP mengeluarkan pemberitahuan tentang kasus sang legislator yang dinilai telah “menargetkan komunitas tertentu”.
Dalam sebuah laporan tahunan yang diterbitkan pada hari Selasa, Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS (USCIRF) mengatakan bahwa India akan bergabung dengan jajaran negara-negara yang menjadi perhatian khusus yang akan dikenakan sanksi jika India tidak memperbaiki catatannya.*