Hidayatullah.com–Rezim keji dukungan Rusia dan Iran, Bashar al Assad bertanggungjawab atas “tidak kurang dari 244 bom gentong” yang dijatuhkan di zona-bebas konflik di Suriah selama bulan Juli, lapor Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR).
Laporan itu diterbitkan setelah Rusia dan AS mencapai kesepakatan genjatan senjata di Suriah barat pada awal Juli.
Pihak rezim dilaporkan pada bulan Juli paling banyak melancarkan serangan bom gentong di wilayah selatan, menjatuhkan 142 bom gentong di Kota Daraa, yang berada di dalam zona bebas-konflik.
Laporan SNHR menunjukkan bahwa rezim Assad telah melanggar Pasal 7 dari Statuta Roma melalui penggunaan sistematis bom gentong, yang merupakan “kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Penggunaan bom gentong yang dalam laporan itu disebut sebagai “senjata khusus dengan dampak kehancuran yang besar,” juga telah secara spesifik dikecam oleh Dewan Keamanan PBB dalam Resolusi 2139.
Rezim juga lebih memilih menggunakan bom gentong buatan lokal dari pada senjata lain karena biayanya yang murah dan daya hancurnya yang besar. Bom-bom itu kebanyakan dijatuhkan di wilayah penduduk sipil, dengan tujuan “sengaja” agar banyak orang yang terbunuh, laporan itu mengatakan. Tergantung dari jumlah bahan peledak di dalamnya, bom-bom itu dapat menghancurkan wilayah sebesar 50-200 meter.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa jumlah wanita dan anak-anak yang terbunuh oleh bom gentong di Suriah berkisar dari 12 hingga 35 persen, ditambahkan pula bahwa 4,476 bom gentong telah dijatuhkan helikopter-helikopter rezim selama tujuh bulan pertama tahun 2017.
SNHR mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan embargo senjata atas rezim Assad, menuntut mereka yang menyuplai senjata itu, dan melaporkan kasus itu ke Pengadilan Kejahatan Nasional, agar dewan itu tidak kehilangan semua kredibilitas dan tujuannya.
Rezim dan pasukan oposisi di negara itu telah terlibat dalam perundingan yang sedang berjalan terkait para pelanggar kesepakatan genjatan senjata di empat wilayah di Suriah.
Dalam pertemuan di Ibu Kota Kazakhtan pada 4 Mei, tiga negara penjamin; Turki, Iran dan Rusia telah sepakat untuk mendirikan zona bebas konflik di Suriah. Tiga wilayah tersebut yaitu Idlib, Latakia dan Homs, Damaskus/Ghouta Timur serta beberapa bagian di Daraa dan Quneitra.*