Hidayatullah.com–Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menilai, Sumanto, pemakan daging mayat dan penyanyi “ngebor” Inul Daratista merupakan peringatan dari Allah SWT agar masyarakat Indonesia segera sadar Cak Nun mengatakan, munculnya Sumanto yang memakan daging mayat dan penyanyi “ngebor” Inul Daratista merupakan peringatan dari Allah SWT agar masyarakat Indonesia segera sadar. “Sumanto dan Inul adalah utusan Allah, tapi statusnya bukan nabi. Sumanto untuk mengingatkan bahwa kanibalisme politik hidup di Indonesia. Kemudian dihadirkan Sumanto, tapi kita tetap nggak sadar-sadar,” katanya di Surabaya, Jumat dinihari. Saat memberikan orasi pada acara “Malam Seribu Bulan” yang diselenggarakan Bengkel Muda Surabaya di halaman Balai Pemuda Surabaya mulai Kamis malam hingga Jumat dinihari, Cak Nun lebih banyak tampil dengan gaya kocaknya. “Sumanto cuma apa? Paling ia hanya makan daging mayat, mayatnya sudah tua lagi. Kalau kalian iri, silahkan niru. Padahal pemimpinan kita itu banyak yang makan kepala-kepala rakyatnya. Paling-paling nanti Sumanto senyum-senyum di surga melihat pemimpin kita ada di neraka,” katanya disambut tepuk tangan penonton. Mengenai Inul, katanya, ia berkeyakinan bahwa hal itu muncul karena kehendak dan kekuasaan Allah. “Kalau tidak karena kekuasaan Allah, masak berani Inul mbokongi wong (memantati orang). Kayak gitu, Inul banyak yang ngundang dan banyak yang beli karcis hanya untuk dibokongi,” katanya. Setelah bercerita panjang lebar, ia kemudian mengambil kesimpulan bahwa harga diri (wajah) masyarakat Indonesia sama dengan pantat atau bokong Inul. Untuk menyelesaikan persoalan yang kini menimpa bangsa Indonesia, Cak Nun menguraikan tiga level solusi dari setiap persoalan, yakni dengan ilmu (horizontal), syafaat (vertikal) dan qudrah (kehendak Allah yang keluar dari hukum Allah). “Untuk level ilmu, sudah banyak kita lihat di televisi atau koran-koran. Para ahli berbicara dan berdiskusi, sementara syafaat itu pertolongan dari Allah dan qudrah lebih tinggi lagi, yakni pertolongan Allah yang keluar dari sunnatullah, seperti lailatul qadar ini,” katanya. Menurut dia, untuk mendapatkan syafaat dari Allah, maka rakyat Indonesia harus memperbanyak membaca shalawat, sehingga Allah tidak akan menghancurkan bangsa ini secara menyeluruh. Ia mengajak bangsa Indonesia untuk bersabar dan selalu dekat dengan Allah karena dibalik kesulitan yang kini terus melilit, Allah biasanya menyimpan rahasia yang pada saatnya Indonesia akan makmur. Acara “Malam Seribu Bulan” itu sendiri dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh D Zawawi Imron dan Hj Utami Ragil Budi, penampilan beberapa kelompok musik dari Surabaya dan Solo, dan penampilan Kiai Kanjeng yang membawakan lagu “Manungso” dan “Tombo Ati”. Mesikpun sempat terganggu karena hujan deras, namun acara itu berjalan lancar dan penonton terlihat antusias mengikuti acara hingga akhir. Kiai Kanjeng yang tampil di akhir acara mengajak penonton menyanyikan bersama-sama lagu “Tombo Ati”. [Ant]