Hidayatullah.com–Ucapan tersebut disampaikannya kepada Ketua Umum PKS, Hidayat Nur Wahid, ketika Dubes Australia itu mengunjungi kantor DPP PKS di Jalan Mampang Raya, Jakarta, Selasa pagi kemarin. “Duta Besar menyampaikan selamat atas perolehan suara PKS yang fantastis dalam Pemilu kali ini,” kata Hidayat ketika menjelaskan hasil pertemuannya dengan Ritchie. PKS yang pada pemilu 1999 tidak lolos `electoral treshold`, namun pada pemilu legislatif 5 April lalu menghasilkan perolehan suara yang cukup tinggi dengan menempati urutan ke-6 dalam perolehan suara sementara secara nasional, dan bahkan untuk DKI Jakarta partai ini meraih suara terbanyak. Hingga pukul 18.00 WIB Selasa, data sementara perolehan suara versi KPU menunjukkan bahwa PKS berada berada di urutan ke-enam dengan memperoleh 6.566.279 suara, atau 7,1 persen dari total 91.571.294 suara yang telah masuk ke KPU. Perolehan suara PKS itu mengikuti Partai Golkar yang menempati posisi pertama yang ditempati Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di tempat ke-dua, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-tiga, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ke-empat, dan Partai Demokrat ke-lima. Sementara itu dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam dengan David Richie, Hidayat juga mengungkapkan berbagai program yang menjadi prioritas dalam program politik PKS, terutama membangun tata pemerintahan yang bersih dan baik serta mengurangi tingkat pengangguran. “Pemerintah Australia sangat mendukung program pemberantasan korupsi yang dikedepankan oleh PKS,” kata Hidayat. Ritchie, seperti dikutip Hidayat, juga menyampaikan harapan pemerintah AS bahwa kemenangan PKS dapat dijadikan barometer dalam perbaikan pemerintahan di Indonesia agar iklim usaha yang dinantikan oleh para investor asing dapat bergairah kembali. Ritchie juga menyampaikan bahwa PKS dapat menjadi pelopor dalam membangun stabilitas kawasan, khususnya Indonesia. Dubes Ritchie mengemukakan pentingnya dibangunnya kerjasama Indonesia dengan Australia, terutama di bidang keamanan untuk menjaga stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara. Ritchie yakin para pemimpin Islam di Indonesia memiliki kematangan berpolitik dan bersikap moderat. Dan ia menilai aksi-aksi terorisme di Asia Tenggara bukan disebabkan oleh latar belakang agama. Menekan Indonesia Australia adalah salah satu diantara tiga negara selain AS dan Singapura yang beberapa tahun ini terus memberikan tekanan politik terhadap pemerintah Indonesia baik melalui sikap resmi atau tidak. Australia merupakan negara tetangga Indonesia yang paling bernafsu terlepasnya Timor-Timur dari Wilkayah Indonesia. Bersama AS dan Singapura, Australia juga salah satu negara yang terus menekan pemerintah agar memenjarakan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Ust. Abu Bakar Ba’asyir meski pengadilan tidak pernah bisa membuktikan pria yang sudah rentah itu terlibat teror. Beberapa bulan mendekati Pemilu, Dubes Australia juga dikabarkan keliling ke beberapa organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU guna memastikan agar partai-partai Islam tidak menang dalam Pemilu. Seminggu menjelang Pemilu, tepatnya, Sabtu, 27 Maret 2004, dalam wawancara dengan BBC East Asia Today, Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew mengatakan seruan agar kelompok Islam moderat di Indonesia memerangi ekstrimis Islam yang ia sebut telah membuat teror di dunia. Jika tidak, maka AS dan sekutunya akan memerangi kelompok ekstrimis Islam itu. Bagaimanapun juga, rasa simpatinnya pada PKS itu haruslah terus didasarkan pada kewaspadaan dan berjuta-juta pertanyaan. (Ant/hdy/cha)