Hidayatullah.com–Dalam keputusan sidang Tanwir yang dibacakan pada saat penutupan oleh Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Syafi’i Ma`arif di Mataram, Minggu kemarin, mengharap agar Muktamar ke-45 Muhammadiyah di Malang, Jatim, pada 3-8 Juli 2005, jauh dari perebutan kekuasaan. Syafi’i berharap, Muktamar III Muhammadiyah juga hendaknya dijadikan pembeliaan dalam kepemimpinan mengingat tantangan yang dihadapi Muhammadiyah, umat, dan bangsa Indonesia semakin berat dan kompleks. Muktamar ke-45 Muhammadiyah di Malang selain menyusun program kerja, juga akan memilih ketua dan pengurus pusat Muhammadiyah periode 2005-2010. Sidang Tanwir sendiri telah berlangsung sejak Kamis lalu di Mataram. “Muhammadiyah memerlukan figur-figur pemimpin yang memiliki komitmen dan mobilitas tinggi untuk memajukan persyarikatan. Sudah tidak saatnya struktur kepemimpinan Muhammadiyah diisi hanya berdasarkan pertimbangan memberikan penghargaan kepada figur-figur tertentu atas ketokohannya di masa lalu,” ujar Syafii. SyafiI juga menandaskan, keengganan Muhammadiyah memberikan ruang lebih luas kepada generasi lebih muda akan berdampak buruk dan dapat mengubur masa depan persyarikatan. Muhammadiyah, kata SyafiI, memerlukan figur-figur pemimpin yang memiliki komitmen dan mobilitas yang tinggi untuk memajukan persyarikatan. ”Sudah tidak saatnya sturuktur kepemimpinan Muhammadiyah diisi hanya berdasarkan pertimbangan memberikan penghargaan kepada figur-figur tertentu atas ketokohannya di masa lalu. Keengganan Muhammadiyah untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi yang lebih muda, ungkapnya, akan berdampak buruk dan dapat mengubur masa depan persyarikatan,” paparnya. Karena itu, Muktamar selain untuk menyusun program kerja juga akan memilih ketua dan pengurus Pusat Muhammadiyah Periode 2005-2010 yang benar-benar baik. Menurut SyafiI, muktamar hendaknya dijadikan peremajaan dalam kepempimpinan. ”Mengingat tantangan yang dihadapi Muhammadiyah, umat dan bangsa ini semakin berat dan kompleks. Beberapa figur muda yang kabarnya dijagokan sebagai calon pimpinan pusat Muhammadiyah pada Muktamar 2005, diantaranya; Malik Fadjar, Dien Samsudin, Amien Abdullah, juga Syafii Ma`arif sendiri. Kutuk Amerika Dalam kesempatan penutupan, Prof Dr Syaii Maarif juga mengecam berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat (AS). “Berbagai kebijakan AS membuat banyak negara sengsara,” katanya ketika saat menutup Sidang. Dia mengatakan, “Kita tidak boleh membenci rakyat AS, tetapi yang harus dibenci adalah kebijakan pemerintah negara adikuasa tersebut,” tambahnya. AS selama ini mengaku sebagai pelindung negara-negara kecil, tetapi sekarang kenyataannya malah sebagai “predator”. Sidang Tanwir Muhamadiyah, katanya, meski diisi dengan agenda yang menyibukkan, namun tidak akan melupakan kesengsaraan yang dialami oleh negara-negara lain khususnya umat Islam. Ini terbukti dalam keputusan Sidang Tanwir Muhammadiyah di Mataram juga diperhatikan masalah internasional. Dalam menyikapi berbagai masalah internasional, Muhammadiyah menyatakan belasungkawa dan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya berbagai tindakan kekesaran, perlakukan yang buruk dan penindasan yang dialami umat Islam di berbagai negara khususnya yang terjadi di Thailand, Filipina, Palestina, Irak, Timor Leste dan Perancis. “Muhammadiyah meminta kepada negara-negara tersebut untuk bersikap adil dan bermartabat,” katanya. Kepada pemerintah negara-negara muslim hendaknya menggalang solidaritas yang semakin baik melalui peningkatan kerjasama diplomatik dan organisasi-organisasi internasional. Syafi’i juga mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk melakukan langkah konkret dan tegas dalam menyelesaikan konflik Palestina dan Israel. Dalam masalah terorisme, dia meminta redefinisi tentang teroris secara lebih fair dan komprehensif. “Hal ini dimaksudkan agar perang terhadap teroris tidak menjadi komoditas dan alat politik negara-negara adikuasa untuk menyampuri urusan-urusan dalam negeri negara-negara tertentu khususnya kaum muslimin,” katanya. (Ant/rep/kcm/cha)