Hidayatullah.com–Corps Dakwah dan Seni–Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (CDS-UMY) bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul, dan beberapa pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah di Bantul, mengadakan kegiatan Muballigh Hijrah.
Menurut Ketua CDS-UMY, Rubiyanto, saat ini pihaknya menilai pembinaan masyarakat, terutama dalam hal pengetahuan agama, hanya sekadar wacana yang belum menyentuh taraf implementasi dalam kehidupan nyata.
“Masyarakat saat ini sebenarnya membutuhkan figur panutan atau teladan yang sebelum bicara, para panutan tersebut telah melakukan dan memberikan contoh nyata kepada mereka sehingga mereka pun antusias mengikuti teladan yang baik, karena pembinaan tidak sekadar wacana,” katanya saat ditemui di Kampus Terpadu UMY, Kamis (27/8).
Ia menambahkan, dalam melakukan pembinaan masyarakat, seorang muballigh juga dituntut berdakwah secara kultural, sehingga pesan dakwah pun dapat diterima masyarakat lebih paham dan mudah.
“Melalui metode dakwah kultural, yaitu sebuah pendekatan dakwah dengan menyesuaikan kondisi masyarakat, maka masyarakat akan lebih paham dan mudah dalam menerima pesan dakwah,” jelas Rubi.
Ia pun mencontohkan, apabila muballigh akan memberikan pembinaan bagi kelompok masyarakat yang sebagian besar merupakan petani, maka materi dakwah pun sebaiknya menggunakan bahasan materi yang tidak jauh dengan dunia pertanian. Bahasan materi tersebut kemudian diisi dengan pesan moral baik yang mengandung nilai keagamaan.
Melalui Muballigh Hijrah, kelompok yang terdiri dari 42 mahasiswa dan mahasiswi diterjunkan ke delapan lokasi, yaitu di wilayah Sewon Utara dan Selatan, Bangunjiwo, Kretek, Palbapang, Pundong, Bambanglipuro, dan Bantul Kota.
Di lokasi tersebut, mereka mengadakan kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat, seperti kegiatan pembinaan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), Tadarus Al-Quran, pemberian materi menjelang buka puasa, imam dan penceramah dalam shalat tarawih. Pelaksanaan kegiatan ini bertepatan pada 1-25 Ramadhan.
Rubi berharap, kegiatan pada jalur dakwah ini dapat menjadi kegiatan positif bagi masyarakat dalam mengisi bulan Ramadhan, yang dapat dilanjutkan pada bulan-bulan selanjutnya meskipun Ramadhan telah usai nantinya.
“Bagi mahasiswa, semoga kegiatan ini menjadi ajang nyata mereka untuk turut serta memberikan kontribusi kepada masyarakat, karena bagaimanapun para mahasiswa pasti akan kembali ke masyarakat suatu saat nanti,” tambah Rubi.
Disinggung mengenai adanya pengawasan aparat kepolisian terhadap aktivitas dakwah saat ini, Rubi berpendapat hal itu tidak menyurutkan niat dan tekat para muballigh untuk menyeru dakwah.
Rubi memaparkan, dakwah merupakan aktivitas untuk menyeru kepada jalan Allah dengan cara yang baik, tidak memaksakan, dan disesuaikan dengan kondisi serta lingkungan masyarakat setempat agar dakwah dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karenanya, ketika berdakwah pihaknya tidak merisaukan pengawasan dari aparat kepolisian tersebut. Namun lebih memandang hal ini sebagai tantangan yang harus dihadapi untuk membuktikan bahwa dakwah merupakan aktivitas yang baik. [umy/hidayatullah.com]