Hidayatullah.com–Tidak mampu membayar biaya perawatan, seorang ibu dan bayinya “disandera” di rumah sakit yang membantu proses persalinannya. Minum obat pun sudah dihentikan, karena tidak punya uang menebus resep.
Ibu malang tersebut, Ratnawati (32), seorang tukang cuci yang kos bersama Jhon (42) di kawasan Kecamatan Medan Barat. Sampai Jumat (28/8) Ratnawati hanya berdiam di ruang perawatan RS “B” di kawasan Jalan Mistar Medan, tempat Ratna dan bayinya dirawat, karena tidak diizinkan keluar sebelum melunasi biaya persalinan operasi caesar sebesar Rp 4.030.000.
Menurut Dewi, pemilik rumah kos yang setia menunggui Ratna–panggilan akrab Ratnawati–di rumahsakit tersebut, Ratna dibawa ke rumah sakit tersebut Sabtu, 22 Agustus lalu karena merasa ingin melahirkan anak keempatnya. Sang bayi lahir perempuan dengan berat badan 4,1kg melalui proses operasi caesar.
Seharusnya Ratna dan bayinya sudah boleh meninggalkan rumah sakit sejak 25 Agustus lalu. “Karena belum melunasi biaya perawatan dia belum boleh pulang,” ujar Dewi.
Dewi menambahkan, Ratnawati yang hanya bekerja sebagai tukang cuci, dan suaminya Jhon yang bekerja mocok-mocok ini, hanya mampu mengumpulkan uang Rp 1,5 juta. Uang itu diperoleh dengan menjual barang-barang berharga, seperti rice cooker, kipas angin, dan lainnya.
Untuk dapat membayarkan biaya tersebut, Ratna pun sudah meminta izin dan memohon pada pihak rumah sakit agar diberikan keringanan, namun tetap saja tidak diberikan kemudahan. Padahal, biaya kamar yang harus dibayarkannya Rp 50 ribu per hari, belum lagi biaya bayi Rp 60 ribu.
“Bahkan sejak tiga hari terakhir, saya sudah tidak lagi makan obat, karena tidak punya uang,” tutur Ratna miris.
Ratna pun semakin khawatir, jika dirinya semakin lama dirawat di rumah sakit, biaya pun akan terus membengkak, sementara dia tidak memiliki penghasilan. Ibu empat anak ini tampak bingung, terlebih dia tidak punya sanak saudara di Medan.
Sementara Dewi, ibu kostnya, yang setia mendampinginya sudah berupaya membantu mencarikan pinjaman. Namun karena pihak rumah sakit tidak memberinya izin keluar, jadi pinjamannya tidak dapat.
“Tadi kami minta izin, agar ibu si anak bisa keluar untuk mencari pinjaman. Namun tidak diberikan pihak rumah sakit, padahal kami minta agar ada satpam yang mendampingi,” katanya.
Dewi mengatakan, rencananya Ratna akan mencari pinjaman di daerah Jalan Darussalam Medan dengan jaminan Dewi.
“Tapi mau ditebus, tidak diberikan keluar, jadi bagaimana? Malah orang yang diharapkan dapat meminjami, disuruh datang kemari, manalah mungkin?” katanya.
Sayangnya pihak manajemen RS “B”belum bisa dikonfirmasi. Namun berdasarkan keterangan salah seorang kasir rumah sakit tersebut bernama Hanum, sesuai aturan pihaknya tidak mungkin mengeluarkan pasien sebelum memenuhi pembayaran semua adminstarsi.
“Harus ada jaminan, jika tidak nggak bisa keluar. Ini sesuai dengan prosedur,” katanya. [global/hidayatullah.com]