Hidayatullah.com – Sejak tahun 1973, homoseksual dihapuskan dari daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sebagai penyakit jiwa. Namun tidak banyak yang mengetahui latar belakang penghapusan itu.
“Banyak publik tidak tahu bagaimana homoseksual dicabut dari daftar DSM, ini yang tidak pernah disampaikan,” ujar Psikolog Ihshan Gumilar pada seminar bertema ‘LGBT dari Prespektif Neurosains’ di UHAMKA kampus Limau, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (03/03/2016).
Homoseksual, jelas Ihshan, awalnya termasuk kedalam kategori penyakit jiwa, hingga semenjak DSM II cetakan ketujuh tidak lagi dianggap sebagai mental disorder.
“Kalau Anda buka di DSM yang sekarang tidak ada, tapi kalau buka di DSM I itu masih ada. DSM II kalau cetakan ke 1 sampai 6 itu juga masih ada,” jelasnya.
Hal itu, kata dia, disebabkan karena adanya gerakan politik dan demonstrasi besar-besaran yang merupakan rentetan dari pergerakan warga Amerika kulit hitam pada tahun 1950-an, yang kemudian berlanjut pada pergerakan feminis dan aktivis homoseksual.
Yang lebih mengerikan sekaligus banyak yang belum mengetahui, lanjut Ihshan, bahwa setelah dihapusnya homoseksual dari DSM, salah seorang ketua penyusun DSM langsung mendeklarasikan kalau dirinya adalah seorang homoseksual.
“Tergantung siapa yang mengajar, kalau seorang psikolog yang sekuler, Anda tidak pernah dapatkan soal ini,” paparnya di hadapan ratusan peserta seminar.
Baca: Lima Dari Tujuh Orang Tim Pembuat DSM Adalah Homo dan Lesbian
DSM, terang alumni St. Laurentian University, Kanada ini, disusun melalui riset, dan setiap kali akan direvisi juga harus melalui sebuah riset.
“Kalau begitu berdasarkan fakta sejarah yang sebenarnya, ini politik atau berdasarkan riset? Kebenaran kah atau pembenaran?” pungkas tukas pria yang pernah meneliti di Institute for Neuroscience, Ghent University, Belgia ini dengan nada tanya.
Sebagaimana diketahui, DSM adalah ‘kitab suci’ bagi para psikolog dan psikiater di seluruh dunia untuk menentukan kategorisasi penyakit-penyakit mental.*