Hidayatullah.com–Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi mengkritik kebijakan pemerintah dalam menangani tenaga kerja Indonesia yang bermasalah di Arab Saudi.
Menurut Hasyim Muzadi titik masalah ada di pemerintah Indonesia yang lebih senang mengirim tenaga kerja dengan posisi pembantu rumah tangga yang rentan terhadap penyiksaan majikan.
Pemerintah saat ini dinilai tidak proaktif dalam menyelesaikan kasus penyiksaan TKI. Sikap pemerintah saat ini berbeda dengan sikap pemerintah saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berkuasa.
Sementara itu, Senin (20/6) malam isak tangis dan doa mewarnai doa di depan Istana Merdeka. Acara itu digelar untuk Ruyati binti Saboti Saruna, pekerja sal Cikarang, Bekasi, yang tewas dipancung di Arab Saudi.
Didampingi sedikitnya 25 aktivis pemerhati tenaga kerja Indonesia (TKI), Een Nuraini, anak Ruyati, datang bersama anaknya yang berusia 3 tahun yang juga cucu Ruyati.
Sebuah spanduk betuliskan “Duka Untuk Rakyat, Negara Korup Rakyat Terpancung” dibentangkan pengunjuk rasa.
“Selamat jalan, Umi, semoga Ibu tenang di alam sana,” kata Een dengan suara serak. “Semoga pula nggak ada umi-umi lain yang bernasib sama dengan ibu saya.”
Yeni Wahid yang juga hadir dalam acara itu mengatakan apa yang dialami Ruyati pernah menimpa Yanti Iryanti, pekerja asal Cianjur.
“Ini belum diketahui oleh publik. Bahkan hingga sekarang jenazah belum bisa dipulangkan ke tanah air meski keluarga telah memintanya,” katanya.
Hal sama disampaikan Anis Hidayah, Direktur Migran Care. Katanya, eksekusi mati yang dialami Ruyati pada 18 Juni merupakan bentuk keteledoran diplomasi perlindungan pekerja migran Indonesia.*
Foto: detik