Hidayatullah.com —Ketua Umum Syabaab Hidayatullah Musliadi Raja Dg. Mappasomba, menduga keras maraknya kegiatan survey yang lembaga swadaya masyarakat (LSM) bertema toleransi tak lain merupakan metode untuk mendapat dana dari sponsor.
Seperti diketahui, belum lama ini LSM Lingakaran Survei Indonesia (LSI) bekerjasama dengan Yayasan Denny JA melakukan riset tentang meningkatnya populasi tidak nyaman terhadap keberagaman di Indonesia.
Dalam riset terbaru itu LSI berkesimpulan bahwa, 67,8 Persen masyarakat Indoensia merasa tidak nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama, 61,2 persen dengan orang Syiah, 63,1 persen dengan orang Ahmadiyah, dan 65,1 dengan orang homoseks (gay).
Dalam “riset” itu LSI berpendapat bahwa sikap masyarakat Indonesia yang dikenal religius yang tidak menerima aliran Syiah dan Ahmadiyah yang dianggap sesat ulama serta kelompok yang memiliki kelainan orientasi seksual seperti gay dianggap perilaku intoleran.
Musliadi memandang, riset LSI tersebut jelas tak sepenuhnya bisa diterima sebab niatnya sangat sumir. Ia bahkan meminta pemerintah serta aparat penegak hukum untuk mengawasi dan mewaspadai gerak-gerik LSM yang disponsori asing.
“Kita tahu, dalam setiap isu yang berkaitan dengan umat Islam di Indonesia selalu saja ada LSM yang suka memancing di air keruh. Ini jelas berbahaya. Apalagi kalau eksploitasi tersebut untuk kepentingan asing dan menjadikannya sebagai barang jualan ke luar negeri untuk meraup keuntungan,” kata Musliadi kepada hidayatullah.com, Selasa(23/10/2012).
Musliadi yang pernah cukup lama nyemplung di LSM kiri ini berharap agar kehadiran lembaga swadaya masyarakat di Indonesia harus dipantau dari kegiatan-kegiatan yang berpotensi ke arah penyimpangan agar rekomendasi mereka tak berat sebelah dan merugikan banyak orang.
Sebelumnya, dosen Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Hamid Fahmy M.phil, Ph.D. menilai kesimpulan survey Lembaga Survey Indonesia (LSI) yang mengatakan Indonesia memiliki tingkat intoleransi karena menolak lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT) dinilai sikap menyesatkan dan tidak adil.
Menurut Gus Hamid, penelitian LSI itu adalah bentuk sikap tidak adil sebagaimana cara berfikir Negara Barat selama ini.
Menurutnya, selama ini Barat menolak pembangunan menara masjid, melarang jilbab, melarang adzan lewat menara , bahkan mencaci-maki Nabi Muhammad Rasulullah semua dianggap sebagai sikap toleran. Sementara di Indonesia, ketika umat Islam menolak perilaku menyimpang seperti LGBT justru dianggap intoleran.*