Hidayatullah.com—Mantan Presiden BJ Habibie meminta pemerintah tidak terus-menerus berfokus pada politik, ia meminta seharusnya pemerintah lebih fokus untuk memperbanyak bekerja.
“Kalau semua berpolitik, siapa yang bekerja?” ujarnya dalam pidatonya pada Seminar Dies Natalis ke-66 PB HMI yang bertajuk “Upaya Strategis Bersama Mencegah Terjadinya Negara Gagal”di Aula Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Jakarta, Ahad (24/02/2013) dikutip Antara.
Dia menjelaskan perspektif bekerja tersebut bukan hanya sebatas masa jabatan yang hanya selama 5 tahun.
“Kalau bisa sampai 50 tahun terus bekerja,” katanya.
Dia juga meminta organisasi pemuda sebagai ujung tombak perubahan untuk berani menentukan masa depan.
“Anda harus berani mengoreksi masa depan, karena ujung tombaknya ada di pemuda. Masa depan saya sudah lewat. Anda harus lebih baik dan berbeda dengan dari Habibie. Lebih baik dari Nurcholis Madjid,” ucap Habibie terkenang mendiang mantan ketua umum PB HMI yang akrab disapa Cak Nur.
Pemuda, lanjut Habibie, harus berkonsentrasi pada peningkatan produktivitas dan daya saing dari sumber daya manusia (SDM).
“Untuk itu, proses kebudaayan dan pendidikan harus bersinergi sehingga menghasilkan keluaran (output) yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta iman dan takwa (imtak) yang meningkatkan motivasi menjadi energi yang positif,” tuturnya.
Habibie menjelaskan proses kebudayaan itu terbentuk dari manusia lahir hingga tutup usia. Sementara proses pendidikan itu ketika sesorang memasuki jenjang pendidikan terendah hingga tertinggi.
“Kedua elemen itu harus bersinergi. Bisa saja nilai kebudayaan sesorang mencapai 10, sementara pendidikannya minus, maka dia tidak terampil dalam bidang pekerjaan,” katanya.
Dia juga mengimbau pemuda untuk tidak takut menjadi pemimpin dan bertanya.
“Anda tinggal tunggu waktunya saja untuk memimpin. Mulai dari keluarga, organisasi, kelurahan, gubernur, sampai presiden. Saya tidak pernah bercita-cita untuk memimpin republik. Saya hanya bercita-cita membuat pesawat terbang. Tapi, siapa yang tahu jika akhirnya saya memimpin,” ujar Habibie.
Dia berharap pemimpin harus menanamkan sifat nasionalis untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia.
“Sasarannya, memelihara dan meningkatkan kualitas. Keadaan kita itu memprihatinkan karena sudah ikut-ikutan perilaku negara lain. Bicaranya atas nama rakyat, tapi perilakunya tidak mencerminkan perjuangan untuk rakyat,” sesal Habibie.*