Hidayatullah.com — Gaya hidup hedon, praktik asusila, amoral, juga anarkistik, semakin marak di masyarakat. Perilaku ini selayaknya dibendung bahkan harus diamputasi agar tidak semakin menggejala karena dapat merusak tatanan masyarakat Indonesia yang ramah dan relijius.
Demikian disampaikan Ketua Dewan Syura Hidayatullah, Ustadz Hamim Thohari, menyikapi kian maraknya perilaku hedonis, praktik asusila, amoralitas, juga anarkisme, dan masalah kebangsaan lainnya di Indonesia.
“Hedonisme merupakan cara pandang manusia yang menempatkan kepuasan hawa nafsu sebagai tujuan sekaligus orientasi hidup. Para penganutnya tak lagi mengukur segala sesuatu dari sisi benar atau salah, boleh atau tidak boleh, pantas atau tidak pantas,” kata Ustadz Hamim Thohari kepada media ini, Ahad (21/04/2013).
Ukuran tindakannya bukan lagi benar atau salah. Yang menjadi ukurannya, lanjut Hamim, adalah apakah segala perbuatan, perilaku laku, sikap, dan tingkah lakunya menghasilkan kenikmatan atau tidak, menghasilkan kepuasan atau tidak, dan kesenangan atau tidak.
Pandangan semacam ini, terang Hamim, mulai menggejala seiring dengan pertumbuhan ekonomi kelas menengah yang sangat mencengangkan. Walaupun penduduk miskin Indonesia terbilang sangat besar, munculnya OK (orang Kaya) dan OKB (Orang Kaya Baru) telah mewarnai kehidupan baru. Merekalah yang kini hidup hura-hura, dan dunia hiburan menjadi hoby, behavior, dan kebutuhannya.
“Generasi hedonis ini telah menjadi manusia yang asing dan tercerabut dari akar budayanya. Mereka lebih menghargai budaya global dibandingkan dengan budaya lokal,” tukas Hamim.
Hamim mengatakan hal itu sangat disayangkan, sebab gejala ini pun juga telah menjangkiti generasi muslim.
Keadaan yang memprihatinkan ini diperparah oleh semakin sedikitnya tokoh muslim, termasuk para aktiifis atau mantan aktifis yang seharusnya menjadi teladan juga tokoh panutan. Tetapi justru menampilkan perilaku buruk.
“Tidak sedikit anak-anak para aktifis justru tidak simpatik dan menaruh hormat pada orangtuanya,” ujarnya.
Untuk itu, beliau menyarankan kepada segenap masyarakat untuk mewaspadai pengaruh buruk gejala ini. Diantaranya ia mengajak kaum Muslimin untuk terus menjaga ketahanan keluarga dengan membangun tradisi komunikasi yang baik antar orangtua, anak, dan sanak kerabat lainnya.
Ia juga menyerukan agar terus digencarkan pembinaan akhlak dan bahu membahu bersama komunitas masyarakatnya di mana dia berada untuk membendung pengaruh-pengaruh buruk praktik-praktis tersebut.
“Memang ini tidak ringan, sehingga menuntut komitmen dan kearifan bersama agar dampak buruk dari perilaku hedonis, amoral dan asusila tak semakin meluas. Mari kita cegah semaksimal mungkin,” pungkas beliau.