Hidayatullah.com–Panitia penyelenggara kegiatan Miss World berharap umat Islam di Indonesia tidak perlu melarang kegiatan tersebut. Pasalnya penyelenggaraan Miss World tidak akan bertentangan dengan nilai-nilai agama di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan panitia Miss World Sururi Al Faruq yang mewakili pihak MNC Grup saat menerima kunjungan delegasi Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di kantor mereka, Jum’at (30/08/2013) lalu.
Menurut Sururi Al Faruq dari MNC, umat Islam seharusnya belajar dari fenomena kemenangan Fatin. Fatin adalah gadis berjilbab yang menjadi juara di sebuah acara mencari bakat di sebuah stasiun televisi swasta.
“Kemenangan Fatin itu membuktikan bahwa perempuan berjilbab juga bisa berkarya,” jelasnya kepada delegasi JAT.
“Harusnya kita belajar kepada kemenangan Fatin itu, tidak bisa kaku dalam menghadapi masyarakat modern,” tambahnya.
Sementara Direktur Corporater Affairs dari PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) Syafril Nasution menilai stasiun televisinya bukan tipe yang menentang dakwah di Indonesia.
“Kami satu-satunya televisi yang mengadakan kegiatan perlombaan hafidz (menghafal) al-Qur’an,” jelasnya. Selanjutnya Syafril memamerkan memiliki stasiun televisi kabel MNC Muslim. Sebagaimana diketahui, RCTI juga merupakan salah satu bagian dari MNC Group.
Syafril bahkan meminta masyarakat tidak reaktif untuk menolak kegiatan Miss World. Ia menilai banyak orang terlalu cepat menghakimi kegiatan Miss World dan menyebarkan berita yang tidak sesuai fakta sebenarnya.
“Kami tidak mengadakan kontes bikini, dan Miss World itu berbeda dengan Miss Universe,” tegasnya.
Syafril juga menampik MNC melakukan kegiatan yang menyakiti hati umat Islam.
“Justru kegiatan ini akan menaikan pamor Indonesia di dunia international,” jelasnya.
Sementara itu, utusan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) yang mengunjungi kantor MNC penyampaian pesan Abubakar Ba’asyir kepada panitia Miss World, terkait niat MNC untuk tetap ngotot melaksanakan pagelaran Miss World di Indonesia.
Aqwan dengan tegas menyatakan apapun alasannya penyelenggaraan Miss World tetap bertentangan dengan agama. Menurutnya Aqwam, masih ada cara lain untuk membangkitkan pariwisata di Indonesia tanpa harus mengeksploitasi wanita.
“Kalau maksiat dilakukan terbuka tanpa malu-malu makan akan muncul penyakit yang tidak ada di masa lalu,” jelas Aqwan pada panitia Miss World.
“Kami mohon kepada panitia Miss World untuk menimbang lagi maslahat dan mudharat dari penyelenggaraan kegiatan ini,” jelas Al Is, perwakilan JAT lainnya.
“Miss World ini bukan kegiatan yang sim salabim, dia sudah direncanakan dan memiliki banyak kepentingan di belakangnya,” tegas Nanang menambahkan rekan-rekannya dari JAT.
Terakhir juru bicara Shonhadi dengan tegas menyimpulkan bahwa Miss World jauh lebih kental kepentingan bisnis.
“Jika ada wanita gemuk dengan berat 90 kilo dengan bibir sumbing mendaftar menjadi peserta pasti ditolak oleh panitia,” jelas Shonhadi.
“Itulah bukti bahwa kegiatan ini memang mengeksploitasi wanita,” tambahnya dan seisi ruangan sempat terdiam beberapa saat mendengar penjelasan tersebut.*