Hidayatullah.com—Rencana peringatan Hari Ghodir Khum, Idul Akbar (Hari Raya Besar) kaum Syiah Indonesia rupanya mendapatkan tanggapan serius berbagai kalangan.
Guru Besar Sosiologi Agama yang juga dikenal seorang pengkaji dan penulis serius masalah Syiah Prof. Dr.H. Mohammad Baharun menilai, rencana kaum Syiah Indonesia yang mau mengadakan acara “Idul Ghodir” tanggal 26 Oktober 2013 di Jakarta dinilai sebuah kesengajaan yang justu semakin jelas menampakkan perbedaan.
“Hari Raya Ghodir adalah rekayasa Syiah yang semakin memperjelas identitas dan perbedaan yang menyimpang mereka dari warisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam,” ujar Baharun dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke redaksi hidayatullah.com, Kamis (24/10/2013).
Baharun juga menambahkan, perayaan besar yang diwariskan Rasulullah menyangkut hari raya dalam Islam hanyalah dua, Idul Fitri dan Idul Adha.
“Yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW adalah dua Hari Raya, Idul Fitri dan Idul Adha sebagai syariat yang dilaksanakan umat Islam se Dunia sjk berabad-abad.”
Sementara itu, Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jatim, Habib Achmad Zein Al-Kaf mengatakan, acara itu justru hanya akan memancing amarah kaum Muslim lainnya.
“Acara tersebut kami nilai sebagai unjuk kekuatan, yang harus kita sikapi dengan menolak dan keberatan diadakannya acara tersebut. Sebab kami hawatir umat Islam akan melawan mereka,“ ujar Achmad Zein Al-Kaf dalam rilis yang dikirim ke redaksi, Kamis malam.
Seperti diketahui, hari Sabtu (26/10/2013) depan, kelompok Syi’ah di Indonesia akan merayakan Hari Raya terbesar mereka, yaitu “Idul Ghodir”.
Perayaan Hari Raya Idul Ghodir yang rencananya akan diselenggarakan di Gedung Smesco Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dinilai beberapa justru semakin membuktikan kelompok itu memang satu aliran yang secara mendasar berbeda dengan kaum Muslim lainnya.*