Hidayatullah.com– Sejumlah elemen Islam berpaham Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang selama ini peduli dengan gerakan pemurtadan dan perusakan akidah, khususnya yang dinilai dimunculkan oleh kaum Syiah, menghimpun diri ke dalam satu aliansi bernama ”Aliansi Ahlus Sunnah untuk Kehormatan Keluarga dan Sahabat Nabi”– selanjutnya disingkat “ASKES”
Hari Kamis (14/11/2013), sekitar 600 massa ASKES menggelar aksi unjuk rasa damai menentang pelaksanaan Ritual ‘Asyurakaum Syi’ah di Balai Samudera Kelapa Gading Jakarta.
Dalam aksi di depan Balai Samodra Jakarta itu, ASKES juga membagi-bagikan 400 eksemplar buku terbitan MUI Pusat yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”.
Buku itu diutamakan dibagi kepada aparat keamanan yang dengan keras berupaya menjaga bentrokan antara massa ASKES dan peserta ritual Syiah.
“Ini salah satu bentuk edukasi. InsyaAllah, kami akan terus melakukan edukasi kepada umat Islam Indonesia tentang hakekat dan penyimpangan Syiah, sebagaimana telah dijelaskan dalam buku MUI tersebut,” kata Koordinator ASKES yang akrab dipanggil Ustad Anung itu.
Pada saat yang sama, penentangan terhadap ritual kaum Syiah itu juga dilakukan kaum Muslimin Indonesia di sejumlah kota, khususnya di Surabaya dan Bandung.
Di Surabaya, ritual kaum Syiah itu dilarang diselenggarakan pihak keamanan, karena sikap tegas Gubernur dan MUI Jatim.
Menurut Koorodinator “ASKES”, Anung Al Hamat Lc, aksinya terutama dilakukan sebagai bentuk penyadaran kepada kaum Muslimin, bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara ajaran dan ibadah kaum Syiah dengan umat Islam pada umumnya, sebagaimana fatwa MUI Jawa Timur terkait Syiah.
Seperti diketahui, biasanya dalam perayaan 10 Muharram, kaum Syiah mengadakan ritual berdarah yang menyakiti tubuh mereka sampai berdarah-darah atau kerap disebut Asyuro.
Tindakan menganiaya diri sendiri separti ini dinilai ASKES sangat berlebihan dan bertentangan dengan ajaran Islam.
ASKES menilai, Syiah juga kelompok yang ekstrim dalam memuja Ali r.a. sambil mencerca dan melaknat sahabat-sahabat Nabi yang lain; bahkan juga terhadap istri Nabi, khususnya Aisyah r.a.
Karena itulah, menurut Anung, yang juga alumnus Universitas al-Azhar Kairo, kaum Ahlus Sunnah senantiasa konsisten menjaga kehormatan keluarga dan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, bukan mencerca dan melaknat sebagian mereka.
Agresivitas Syiah di Indonesia, menurut Anung, kini sangat mengganggu dan menyita tenaga serta pikiran umat Islam Indonesia. Hal itu juga suatu hal yang aneh. Kaum Syiah mengaku bersaudara dengan kaum Ahlus Sunnah, tetapi mereka tak henti-hantinya menyebarkan permusuhan, khususnya melaknat para sahabat Nabi yang utama dan istri Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam.
“Jika Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah radhiyallaahu anhum, dilaknat mereka, lalu apalah artinya kita-kita ini?” tanya Anung, yang juga dikenal sebagai pendekar silat dan pakar paham dan aliran keagamaan.
Guna member informasi bagi uma, Anung juga menulis buku berjudul “Sekelumit Penyimpangan Syi’ah” dan “Mewaspadai Penyimpangan Sekte Neo-Murjiah”. *