Hidayatullah.com– Saat ini banyak umat Islam yang silau dengan metodologi dan peradaban Barat. Mereka dan malah menghujat Islam itu sendiri. Padahal, Islam pernah berjaya karena keilmuannya, dan Barat banyak belajar pada Islam.
Demikian disampaikan Dr. Ugi Suharto saat menjadi pembicara dalam diskusi pemikiran dan peradaban Islam di Gedung Pascasarjana UNAIR Surabaya, Kamis (13/08/2015).
Dr. Ugi menjelaskan salah satu yang menjadi tantangan saat ini adalah banyak pelajar Muslim yang belajar ke barat justru menyimpang, karna menggunakan kacamata orientalis dalam memahami ajaran Islam.
“Karena mereka tertarik dengan motodologi barat, ketika pulang mereka malah ragu dengan para ulama,” ujar Dr. Ugi yang kini Assistant Professor Collage of Bahrain.
Alumni ISTAC Malaysia ini menegaskan bahwa tidak seharusnya umat Islam anti dengan Barat, namun posisi yang tepat umat Islam kepada Barat sebagaimana sikap Imam Al Ghozali, wajib untuk bersikap kritis terhadap apa-apa yang dating dari Barat.
“Ada hal-hal yang bisa kita ambil, ada juga hal-hal yang harus kita kritisi. Baiknya sikap kita adalah seperti Imam Al-Ghozali terhadap peradaban Yunani, yang tidak menerima sepenuhnya, namun tidak pula menolak seluruhnya,” jelas Dr. Ugi.
Lebih lanjut Dr. Ugi menjelaskan jika kita ingin mengkritisi peradaban Barat, maka kita harus memiliki pegangan keilmuan keislaman yang kuat terlebih dahulu.
“Harusnya ilmu agama kita lebih tinggi daripada ilmu fardhu kifayah (ilmu umum, red) kita. Kalau yang terjadi sebaliknya, seringkali ilmu fardhu kifayah justru mengkritik ilmu fardhu ‘ain (ilmu agama/din, red), ini bahaya,” jelasnya.
Sering kali realitanya terjadi seperti itu. Jika ilmu fardhu kifayah lebih tinggi dari ilmu fardhu ‘ain, yang terjadi justru ilmu fardhu kifayah mengkritik ilmu fardhu ‘ain. Akibatnya banyak terjadi orang awam justru mengkritik ulama dan para salafus shalih.
“Kalau kita sudah berpikir nyeleneh, salahkan diri kita dahulu, jangan salahkan ulama, berarti ada yang salah dengan pemikiran kita (otak, red),” ujar Dr. Ugi.
Menurutnya, langkah yang tepat seharusnya umat Islam memiliki kedua ilmu tersebut sama-sama tingginya.
“Idealnya adalah ilmu fardhu ‘ain kita tinggi, ilmu fardhu kifayah kita juga tinggi,” pungkas Dr. Ugi. */Yahya G. Nasrullah