Hidayatullah.com–Diprediksi tahun depan (2016) ekonomi syariah khususnya dunia perbankan syariah di Indonesia akan mengalami kebangkitan.
Meski kondisi ekonomi nasional belum sesuai harapan namun dengan potensi pasar yang besar di mana mayoritas penduduknya Muslim maka tumbuhnya ekonomi syariah bukanlah impian kosong.
Demikian diungkapkan pakar ekonomi syariah, Adiwarman A. Karim dalam seminar yang diselenggarakan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Wilayah Jabar dengan bertema “Sistem Ekonomi Islam Dalam Mengatasi Perlambatan Ekonomi Indonesia “ di Bandung, Kamis (5/11/2015).
Lebih lanjut Adiwarman menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia tersebut salah satunya ditandai dengan pertumbuhan secara signifikan yakni berdirinya Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) pada 2016 mendatang.
Menurutnya pertumbuhan signifikan tersebut setidaknya akan menarik atau penambahan asset di perbankan syariah antara Rp.48 trilun hingga Rp.61 triliun.
“Ada lima indikasinya yakni yang pertama selesainya proses konsolidasi di dua BUS terbesar di Indonesia yang nilainya antara Rp.15 – 20 triliun. Kedua adanya konversi Bank Umum Konvensional (BUK) menjadi BUS dengan total asset mencapai Rp.20 triliun,”jelasnya.
Sementara yang ketiga ia menyebutkan adanya ekspansi usaha mikro (Rp.5 – 8 trilun), yang keempatan adanya ekspansi bidang property (Rp.5 – 10 trilun) dan yang kelima adanya pemain baru dalam industri syariah dengan perputaran hingga Rp.3 triliun.
Pasang surut perkembangan perbankan syariah di Indonesia dalam cacatannya juga ditandai adanya pertumbuhan UUS lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan BUS, namun di tahun 2010 lalu ada penurunan jumlah UUS dikarenakan ada beberapa UUS yang melakukan Spin Off. Sementara kabar gembiranya,sambungnya, dimana masih tahun yang sama adanya penambahan BUS terbesar terjadi yakni berdirinya 5 BUS baru.
“Walaupun jumlah BUS masih sedikit baru ada 12 bank, namun jumlah jaringan yang dimiliki oleh BUS jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jaringan yang dimiliki oleh UUS setidaknya dalam catatan saya setidaknya hingga Juni 2015 ini saja telah mencapai 2.121 kantor diseluruh Indonesia. Nah,dengan mengacu pada lima indikasi kebangkitan perbankan syariah diatas maka bisa dipastikan pertambahan kantor cabang akan lebih banyak lagi sehingga akan mudah di akses masyarakat,”imbuh pendiri Karim Bussiness Consulting Indonesia ini.
Ia juga menyampaikan salah salah problem ekonomi syaiah yang lambat adalah pertumbuhan aset Perbankan Syariah pada tahun 2010 sampai 2012 selalu berada diatas 30%, namun sampai 2014 malah mengalami penurunan sampai hanya sebesar 12,41%. Kondisi ini menurutnya menyebabkan Compound Annual Growth Rate (CAGR) perbankan Syariah hanya diatas 42,48% yang berarti 2 kali lipat dibandingkan pertumbuhan perbankan nasional.
Selain itu ia menambahkan hambatan lain juga datang dari kesadaran masyarakat Muslim sendiri yang belum bersemangat dalam memajukan ekonomi syariah khususnya dalam dunia perbankan syariah. Hal ini ditandai dengan pangsa pasar yang masih kecil dimana hingga Juni 2015 hanya sebesar 4.59% dari perbankan nasional.
“Namun kita semua harus tetap dan terus optimis dimana tingginya tingkat pertumbuhan funding, financing, dan total asset, maka perbankan syariah di Indonesia merupakan pasar yang besar. Di ,coba kurang apalagi?,”tanyanya.
Untuk itu ia mengajak hadirin khususnya dan masyarakat Muslim pada umum agar tidak ragu lagi terhadap perbankan syariah dan turut serta mendukung dan memajukan ekonomi syariah khususnya perbankan syariah. Sebab,imbuhnya,sebesar apa dukungan pemerintah dan investor jika masyarakatnya masih acuh maka tidak akan berarti apa.
“Salah satu bentuk dukungan minimal kita membuka rekening di Bank Syariah lah,”ajaknya dihadapan ratusan peserta dari berbagai profesi ini.*