Hidayatullah.com–Aceh yang pernah mengukir kegemilangan di zaman kesultanan dengan penulisan mushaf Al-Quran ratusan tahun silam, saat ini perlu membangkitkan kembali semangat penulisan mushaf.
Ini merupakan bagian dari proses untuk memelihara Al-Quran hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat Al-Hijr: 9 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Demikian disampaikan ulama dan penulis Mushaf Kerajaan Maroko, Syeikh Belaid Hamidi saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (25/11/2015) malam.
Menurutnya, semangat penulisan mushaf Al-Quran pada generasi muda Aceh ini juga sejalan dengan penerapan syariat Islam di provinsi paling ujung barat pulau Sumatera itu.
“Kalau Aceh lagi menerapkan syariat Islam, karena Al-Quran adalah syariat, berarti menuliskan mushaf Al-Quran itu itu penerapan syariat. Karenanya mari kita bangkitkan semangat dalam membudayakan kembali penulisan Mushaf dengan tangan yang kini mulai pudar tergerus zaman,” kata Syeikh Belaid Hamidi yang juga Dewan Hakim Perlombaan Kaligrafi Internasional Ircica, Turki pada pengajian KWPSI dengan tema, “Penulisan Ayat-ayat Al-Quran Rahhalah di Bumi Aceh”.
Menurutnya, untuk menulis mushaf Al-Quran ini bukan pekerjaan yang mudah. Harus betul-betul siap, makanya dirinya ingin mempersiapkan dulu orang dan SDM-nya. Ketika dia sudah betul-betul nanti siap baru diarahkan, agar tidak sampai tergesa-gesa.
“Saya ingin mempersiapkan murid saya dulu yang ada di Aceh sebanyak empat orang agar betul-betul teliti dia dalam penulisan di nasakh, kemudian juga akan ikut membantu menulis satu dua juz, saya akan selalu berada di belakang murid-murid yang telah saya berikan ijazah khat,” terangnya.
Ditambahkan Syeikh, kalau misalnya pemerintah di Aceh betul-betul mendukung untuk penulisan mushaf ini, maka harus mendukung dari segala segi. Yang menulis itu nanti dia tidak lagi memikirkan hal-hal yang lain. Dia akan konsentrasi dengan penulisan. “Kalau pemerintah mendukung penuh, insya Allah saya akan siap membantu,” jelasnya.
Dalam pengajian KWPSI yang dimoderatori Dosi Alfian itu, penulis delapan mushaf Al-Quran asal Maroko ini juga mengisahkan bahwa dirinya memendam hasrat untuk menuliskan mushaf Al-Quran sejak kecil. Namun, Syeikh Belaid memasang tekad akan mewujudkan cita-citanya ketika umurnya mencapai 40 tahun.
Hingga pada suatu malam akhir tahun 1980-an, Syeikh Belaid Hamidi mengaku bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Dalam mimpi itu, Rasulullah meminta Syeikh Belaid menuliskan mushaf Al-Quran.
“Setelah mimpi itu, saya sangat ingin menulis Al-quran, tapi ada satu kendala yaitu saya berjanji akan mulai menulis Al-Quran pada umur 40,” ungkap Syeikh Belaid.
Pada pengajian KWPSI, Syeikh Belaid Hamidi yang kini mengajar di Mesir, didampingi dua muridnya asal Aceh, Mukhlis Ilyas yang bertindak sebagai penerjemah, serta Khairul Rafiqi.
Penulis delapan mushaf Al-Quran asal Maroko ini juga mengisahkan bahwa dirinya memendam hasrat untuk menuliskan mushaf Al-Quran sejak kecil. Namun, Syeikh Belaid memasang tekad akan mewujudkan cita-citanya ketika umurnya mencapai 40 tahun. [Baca juga: Mulai Menulis Mushaf Setelah Bermimpi Rasulullah]
Hingga pada suatu malam akhir tahun 1980-an, Syeikh Belaid Hamidi mengaku bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Dalam mimpi itu, Rasulullah meminta Syeikh Belaid menuliskan mushaf Al-Quran.
“Setelah mimpi itu, saya sangat ingin menulis Al-Quran, tapi ada satu kendala yaitu saya berjanji akan mulai menulis Al-Quran pada umur 40,” ungkap Syeikh Belaid.
Syeikh Belaid mengaku telah mengunjungi 13 negara. Di setiap negara yang ia kunjungi, tak lupa menuliskan Al-Quran disertai catatan pinggir nama daerah dan negara yang disinggahinya.
“Hari ini saya berada di Aceh tepat pada Bulan Safar. Sungguh merupakan suatu yang kebetulan bahwa mushaf yang sedang saya tulis ini, saya mulai pada bulan Safar tahun lalu,” katanya.*/T Zulhairi