Hidayatullah.com–Sekretaris Jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) menyayangkan adanya pernyata an yang menyebut bahwa orang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa.
“Cara berfikir terbalik. Ada orang yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa. Ini terbalik, orang yang berpuasa menghormati yang tidak berpuasa. Ini terbalik,” ujar Ustadz Bachtiar Nasir dalam perbincangan dengan Radio Republik Indonesia, sebagaimana dikutip KBRN Selasa (07/06/2016).
Apabila dibiarkan justru akan memancing emosi.
“Jangan dibalik, yang sedang berpuasa untuk menghormati yang tidak berpuasa. Ini akan memancing emosi. Membuka warung siang hari, okelah ini urusan pribadi. Ada yang lemah iman harus dilindungi. Ada orang yang baru belajar,” tegasnya.
Ada poin penting dalam bulan suci Ramadhan. Pertama, agar fokus menjadikan puasa Ramadhan tahun 2016 sebagai bulan surga. Bulan puasa juga dapat dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga.
“Ada tadarus bersama, tahajud bersama, membacakan kisah buat anak. Bersilaturahim kepada nenek dan kakek, tokoh. Memperbaiki hubungan suami dan isteri, komunikasi dengan anak yang selama ini sibuk dengan gadget, sibuk dengan kuliah dan kursus sehingga kehilangan anak kita. Ini momentum bagus,” ujarnya.
Kedua, momentum untuk introspeksi diri dengan menata kembali pola pikir kepemimpinan bangsa. Sikap politik di Indonesia dengan moral hazard berorientasi kepada kekuasaan dan uang.
“Ini tontonan mengerikan. Pengambilan putusan didasari oleh materi, kepentingan sesaat dan tidak memperhatikan perjuangan dari pejuang yang telah meneteskan darah,” tandasnya.*