Hidayatulah.com–Perkembangan jumlah wisatawan Muslim dari Timur Tengah maupun Asia ke kawasan Eropa dalam lima tahun terakhir semakin meningkat. Hal inilah yang mulai mendapat perhatian dan pelayanan khusus dari pelaku dunia pariwisata maupun pemilik biro perjalanan di Eropa dalam menyambut tamu “special” tersebut.
“Kehadiran turis Muslim (Muslim tourism) di Negara kami bisa menjadi komoditas sekaligus sarana dakwah yang efektif sehingga kehadiran mereka secara tidak langsung turut memperkuat kehidupan Muslim di Negara kami,” ungkap Marc Deschamps selaku Direktur Halal Klub Brussel Belgia saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional Pariwisata Halal di ITB Bandung, Kamis (1/9/2016) kemarin.
Menurut Marc meski Belgia bukan daerah tujuan utama wisatawan Muslim namun dalam tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Hal inilah yang membuat kaum Muslim di Belgia turut tertantang untuk mengambil peran dalam dunia wisata termasuk menyediakan segala keperluan selama kunjungannya dalam koridor sesuai syariah Islam.
“Setidaknya dalam lima tahun ini restoran halal maupun hotel khusus bagi wisatawan Muslim mulai bermunculan. Ini juga kabar bagus bagi kehidupan Muslim di Belgia,”ujarnya.
Marc menambahkan meski Muslim masih minoritas dan pariwisata halal belum masuk program pemerintah namun pihaknya dengan didukung oleh berbagai komunitas Muslim di Belgia siap menyambut dan melayani wisatawan Muslim dari berbagai Negara.
“Ini pasar yang potensial dan kami siap bersaing dengan Negara lainnya yang lebih dulu mengembangkan pariwisata halal,”ujar optimis.
Sementara menjawab pertanyaan munculnya islam phobia yang dikait dengan tindakan radikal dan terrorism, Marc menjelaskan bahwa masyarakat Eropa sebagian besar sudah bisa bersikap rasional yang dapat membedakan antara tindakan dengan agama.
“Itu menjadi bagian dari kampanye yang kami lakukan dan Alhamdulillah masyarakat Eropa khususnya di Belgia tidak terlalu terpengaruh dengan beberapa insiden terror tersebut,”tegasnya.
Hal senada juga diungkapkan Yo Nonaka dari Universitas Keio Jepang yang mengungkapkan bahwa meski jumlah Muslim masih minoritas dan tidak ada program dari pemerintah tentang pariwisata halal namun jumlah turis Muslim ke Negeri Sakura semakin meningkat.
“Pemerintah kami tidak melarang namun juga tidak mensupport jadi yang kami lakukan adalah dengan menggalang komunitas Muslim yang ada untuk bersama-sama turut mengkampanyekan pariwisata halal dalam menarik wisatawan Muslim ke negeri kami,”ujarnya Yo Nonaka.
Ia menjelaskan langkah yang dilakukan dalam menarik wisatawan Muslim ke Negaranya tidak jauh berbeda dengan Negara lain seperti menyediakan makanan dan restoran halal, tempat shalat di hotel dan bandara hingga sekitar tempat wisata dan tempat belanja. Meski demikian pihaknya mengakui masih ada beberapa kendala yang harus dibenahi dalam memberikan layanan prima kepada turis Muslim selama berada di Negaranya.
“Masih ada beberapa perusahaan yang enggan mengurus sertifikat halal terhadap produk atau jasa yang mereka berikan kepada turis,”keluhnya.
Untuk mengatasi hal tersebut menuru Yo Nonaka pihaknya melakukan kerjasama dengan beberapa komunitas, perusahaan dan lembaga dalam pelatihan dan sosialisasi tentang halal.
“Di Universitas Keio kami ada Lab Studi Islam salah satu kegiatannya adalah memberikan pelatihan dan pengembangan serta penyediaan SDM Muslim yang handal dalam segala bidang termasuk industri pariwisata halal,”ungkapnya.
Untuk itu pihaknya berharap dengan adanya langkah-langkah dan layanan dalam menarik wisatawan Muslim Jepang dapat bersaing dengan Negara-negara lain.
“Mudah-mudahan dalam beberapa tahun kedepan Negara kami bisa menjadi daerah tujuan utama bagi turis Muslim termasuk dari Indonesia,”harapnya.
Namun demikian baik Marc Deschamps maupun Yo Nonaka melihat potensi wisata halal di Indonesia sangat luar luar biasa. Dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim dan dukungan penuh pemerintah maka pariwisata halal di Indonesia bisa menjadi favorit tujuan wisatawan Muslim.*/Abu Luthfi Satrio