Hidayatullah.com– Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fahmi Salim Zubair menyoroti pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat perayaan HUT partai berlambang banteng yang ke-44 tersebut, beberapa waktu lalu.
Fahmi menilai, pidato Megawati tersebut terkesan menyebarkan ujaran kebencian dengan menyindir Islam sebagai ideologi tertutup dan ulama atau pemuka agama memerankan diri sebagai ‘peramal masa depan’, serta cenderung menyalah-pahami beriman kepada hari akhirat.
Menanggapi itu, ia menjelaskan bahwa dalam tadabbur makna firman Allah Subhanahu Wata’ala Surah al-Dzariyat disebutkan manusia diingatkan tentang kebesaran-Nya dan kehancuran kaum-kaum yang menentang dan membangkang dari Allah, agar menjadi peringatan dan pelajaran hidup.
Muhammadiyah: Pidato Megawati Ahistoris dan Berbahaya bagi NKRI
Sesungguhnya, kata Fahmi, Allah peringatkan manusia bahwa perjalanan hidup ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
“Maka, segeralah berlari kepada Allah, segera ingat dan insaf bahwa perjalanan hidup ini ada tujuannya, yaitu Allah. Pada saat panggilan itu datang, kita sudah siap,” terangnya dalam pengajian akbar di PD Muhammdiyah Tegal, Ahad (15/01/2017) lalu.
“Maka jika sudah jelas tujuan hidup ini adalah untuk Allah, janganlah kita rusak dan pecah pikiran kita ini dengan perbuatan syirik, mempersekutukan Allah dengan selain-Nya. Syirik kepada Allah membuat tujuan hidup kita tidak lagi bulat untuk Allah. Ia hanya akan merusak dan menghancurkan orientasi hidup kita. Itulah pesan ayat 51,” tambah Salim.
Kemudian dalam ayat 52 dan 53, ia memaparkan, oleh sebab itu banyak pihak pengikut Iblis yang ingin mengacaukan dan merusak orientasi hidup manusia yang bertauhid.Termasuk musuh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam saat mendakwahkan Islam.
Yaitu dengan cara menghasut dan memfitnah para utusan Allah yang mendakwahkan tauhid dan menjaga orientasi fitrah manusia hanya untuk Allah, dengan tudingan mereka itu adalah tukang peramal (kaahin), tukang sihir (saahir), atau orang gila (majnuun).
“Tuduhan seperti itu sudah lumrah diterima oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, bahkan secara turun temurun oleh para pengikut Iblis, fitnah tersebut diarahkan kepada para pembawa risalah. Seolah-olah para penuduh itu telah saling berwasiat secara lintas generasi dan lintas zaman untuk melontarkan bermacam tudingan tersebut kepada para Nabi dan Rasul,” ungkap Salim.
Sedangkan ayat selanjutnya, kata dia, bahwa di zaman modern saat ini, para pendakwah dan ulama pewaris risalah Nabi yang mengajak manusia supaya menjalankan syariat Islam juga sering difitnah dan dihujat sebagai tukang sihir atau orang gila dan tukang peramal.
“Karena mereka dianggap, dengan menerapkan syariah, ingin mengajak manusia hidup seperti di zaman Rasul. Kembali ke zaman Rasul berarti suatu kemunduran, sebab kata mereka, hidup di zaman modern hendaklah menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman dan modernitas,” jelas alumni Al Azhar Mesir ini.
Salim menambahkan, pada ayat 54 itu menyampaikan bahwa dalam berdakwah, jika menghadapi para pengingkar dan pembangkang, maka Allah menyuruh untuk berpaling dan tidak mengindahkan segala hasutan dan fitnah.
Sementara dalam ayat 55, ia menegaskan, ulama dan ormas Islam tidak akan tercela karena menyuarakan kebenaran dari Allah. Karena mengajak komitmen kepada syariat Islam ataupun karena amar makruf nahi munkar menyatakan yang haq itu haq dan yang batil adalah batil.
“Namun peringatan tetap wajib disampaikan, sebab selain mereka itu, masih ada kaum beriman yang akan menyambut baik dakwah Islam dan akan mendapat manfaat dari peringatan itu,” pungkas Salim.*