Hidayatullah.com– Kasus penghinaan terhadap Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Diketahui, Zainul Majdi mendapat perlakuan tidak mengenakkan dalam perjalanannya dari Singapura menuju Indonesia.
Meski demikian, tokoh organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan, ini meminta masyarakat Indonesia termasuk umat Islam untuk tetap bersabar, tidak memprovokasi, tidak terprovokasi, serta tetap menjaga ketenangan.
Dalam pesan singkatnya diterima redaksi hidayatullah.com, Jumat (14/04/2017), Zainul meminta umat Islam untuk memupuk kesabaran.
“Jangan (terpancing. Red)! Tetap tenang dan sabar,” ujar Zainul kepada kontributor media ini di NTB, sebelumnya, Kamis (13/04/2017).
Baca: Ulama Harus Lindungi Generasi Muda dari Segala Bentuk Teror
Berdasarkan informasi dihimpun media ini, kejadian yang menyinggung rasis itu terjadi saat Zainul bersama istrinya tengah mengantre di tempat check-in Batik Air di Bandara Internasional Changi, Singapura, Ahad (09/04/2017).
Lalu, menurut pengakuannya, ada rombongan kecil mengklaim mengantre sebelumnya lantas marah-marah kepada Zainul dan istri. Keduanya pun mengalah lalu berpindah antrean tapi terus diumpat-umpat.
Zainul menegaskan bahwa ia dan istri lebih dahulu mengantre dibanding rombongan kecil tadi.
“Kami antre, saya keluar antrean ke salah satu petugas untuk tanya info penerbangan, istri tetap di jalur antrean. Mereka (rombongan kecil. Red) datang belakangan. Saya balik gabung istri, mereka ngamuk. Mereka pikir itu bukan istri saya awalnya. Malu mungkin lalu mengumpat-umpat. Kami mengalah pindah antrean masih terus diumpat. Saya adukan ke polisi setiba di Jakarta,” demikian penjelasan yang dibenarkan oleh Zainul saat dikonfirmasi hidayatullah.com.
Seorang di antara rombongan kecil itu adalah mahasiswa yang beralamat di Jakarta Barat, SHS. Pria beretnis keturunan ini melakukan penghinaan kepada Zainul dengan istilah yang bermakna kotor dan rasis.
Zainul mengakui, ia kemudian memutuskan mengadukan kejadian itu ke kepolisian setelah mengetahui arti kata “tiko” yang diumpatkan SHS kepada Zainul. “Rupanya mereka punya sebutan yang sangat merendahkan pribumi,” diakuinya.
Berdasarkan penelusuran, kata “tiko” dikenal merupakan akronim yang memiliki beberapa makna penghinaan atau merendahkan.
Baca: GP Ansor Kalsel Siap Ambil Tindakan atas ‘Penghinaan’ Ahok terhadap KH Ma’ruf Amin
Saat pengaduan di kantor kepolisian Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banteng, Zainul mengakui jika kelompok kecil tadi masih mengintimidasi petugas.
Bagaimana intimidasinya? Teriak-teriak di dalam kantor sampai kemudian diusir keluar oleh seorang petugas, demikian diakuinya.
Apakah SHS dan rombongannya tidak mengenal Zainul Gubernur NTB? “Setelah tahu pun tak berkurang arogansinya. Saya membayangkan bagaimana mengenaskannya saudara-saudara kita yang kebetulan bekerja pada mereka,” demikian penjelasan yang diakui Zainul.
SHS dikabarkan telah menyampaikan permintaan maafnya secara tertulis dan disiarkan di media massa nasional baru-baru ini. Zainul pun telah memaafkannya. Ia meminta persoalan ini tidak diperpanjang.* ZK, SKR