Hidayatullah.com– Setelah Pilpres dilaksanakan kemarin, muncul tiga versi perhitungan. Pertama, quick count, yang menghitung capres-cawapres 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin menang dengan selisih 8-10 persen.
Founder dan CEO PolMark Indonesia Inc., Eep Saefulloh Fatah, menjelaskan quick count hanya bisa dipakai sebagai bahan prediksi awal. Hasil quick count, kata dia, bisa diperdebatkan karena ada margin of error.
“Tak bisa dipakai untuk merumuskan konklusi. QC (quick count) berguna tapi ada batasnya. Tak bisa dipakai membuat konklusi resmi,” tulis Eep dalam akun Instagramnya @eepsfatah yang telah dikonfirmasinya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Kamis (18/04/2019).
Baca: PP Muhammadiyah Desak KPU lebih Jujur, Adil, Transparan, Independen
Versi perhitungan kedua adalah hasil real count berbasis berita acara perhitungan suara di TPS (Formulir C1) yang dilakukan kubu capres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Diklaim bahwa Prabowo-Sandi meraih 62% suara.
Masalahnya, kata Eep, yang sudah dihitung baru lebih dari 320 ribu TPS atau kurang dari 40% dari seluruh TPS. “Secara statistik sudah jelas angkanya belum konklusif,” ujarnya.
Selain itu, tambah Eep, angka ini belum bisa dipakai sebagai hasil resmi. Sebab baru perhitungan satu pihak Prabowo-Sandi. Kubu Jokowi-Amin bisa saja membuat bantahan dengan cara berhitung yang sama. “Konklusinya berpotensi diperdebatkan secara politik,” ucapnya.
Baca: Siapa Pemenang Pilpres? Aa Gym: Tenang, Sabar, Tunggu Keputusan yang Adil
Selanjutnya versi angka “resmi” perhitungan Komisi Pemilihan Umum yang diumumkan di website resmi KPU.
Angka ini diperoleh dengan cara yang sama dengan perhitungan kubu Prabowo-Sandi: berbasis berita acara perhitungan suara di TPS2.
Masalahnya, kata Eep, data yang sudah dihitung KPU masih amat sangat terbatas. Saat dia akses hari ini (Kamis, 18/04/2019) pukul 04.30 pagi, total suara yang sudah dihitung baru dari 518 dari 813.350 TPS (0,6369%). Masih di bawah 1% dari total data/suara.
“Jadi, sekalipun ini angka “resmi” di website KPU tapi datanya masih amat sangat kecil untuk dipakai membuat konklusi,” ujarnya.* Andi