Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Putra Madura Raih Doktor setelah Teliti Manuskrip Langka Era Dinasti Seljuk

Ahmad
Terakhir diupdate: 19 Juli 2019 06:31 6:31 am
Ahmad
Dipublikasikan 18 Juli 2019 08:32
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Akhmad Rofii Dimyati, putra asli Pamekasan, Madura, meraih gelar doktor Filsafat Islam di Suleyman Demirel University, Isparta, Turki pada hari Selasa setelah meneliti manuskrip ulama bernama Syeikh Muayyad bin Abi Bakar bin Ibrahim Akmaluddin An-Nahjuwani yang hidup pada abad ke-14 di masa keruntuhan Kesultanan Seljuk.

Dalam disertasinya, alumni UİN Maliki Malang, Jurusan Bahasa dan Satra Arab (2000-2004) ini meneliti karya An-Nahjuwani berjudul Syarhul Isyarat wat Tanbihat.

Dikutip Anadolu Agency, pria yang juga ketua Pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Almujtama’ Pamekasan ini mengaku pesimis karena kajian manuskrip ini sukar, apalagi membahas filsafat Ibnu Sina yang dikenal tidak mudah untuk dipahami.

“Tapi dengan kesungguhan, kerja keras dan kesabarannya penelitian manuskrip ini rampung,” ujar Dimyati ini dalam keterangannya kepada Anadolu Agency.

“Penelitian ini bisa menjadi kontribusi baru bagi dunia filsafat Islam. Meskipun, ada beberapa hal kecil yang perlu diperbaiki,” ujar Eşref Altaş dosen Istanbul Medeniyet University, yang ikut memberikan apresiasi tinggi terhadap penelitian manuskrip Dimyati.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Penelitian ini bisa menjadi kontribusi baru bagi dunia filsafat Islam. Meskipun, ada beberapa hal kecil yang perlu diperbaiki,” ujar Eşref Altaş di akhir sidang.

Dimyati mengatakan, manuskrip bertajuk “Syarhu’l-İsyarat” adalah manuskrip langka (nawadiru’l-mahtutat) yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan manuskrip di Turki.

Sebab, selain naskahnya cuma ada dua buah, yaitu di Koleksi Koprulu dan Nuruosmaniye, ia juga termasuk manuskrip cukup awal dilihat dari periodenya, yaitu manuskrip Abad ke 14 M, sebab salah satu manuskripnya adalah ditulis sendiri oleh muallif yaitu Muayyad bin Abi Bakar bin İbrahim Akmaluddin An-Nahjuwani.

“Artinya salah satu manuskripnya orisinil dari penulis, bukan salinan. Kelebihan lain adalah dari sisi pemikiran penggunaan sumber.”

Baca: Harumkan Indonesia, Qori asal Bima Juara MTQ Internasional di Turki

Sebagaimana diketahui, kitab İbn Sina yang berjudul Al-İsyarat wa’t-Tanbihat di-anotasi oleh puluhan ulama setelahnya baik yang mengkritik seperti Fakhruddin Razi maupun yang membela seperti Sayfuddin Amidi dan Nasiruddin Tusi.

Akmaluddin Nahjuwani berusaha untuk menjelaskan kitab Al-İsyarat wa’t-Tanbihat İbn Sina ini dengan bahasa yang lebih mudah dipahami tanpa masuk ke dalam perdebatan panjang antara pensyarah lainnya. Namun di waktu yang sama, Akmaluddin An-Nahjuwani juga menggunakan pendapat mereka yang berseteru tersebut untuk mendukung syarahannya.

“Jika kita ingat dengan ilmuan Malaysia asal Bogor, Professor Dr Naquib Al-Attas, ketika menjelaskan konsep-konsep filosofisnya, di mana Al-Attas membangun pemikiran bersumber dari rujukan-rujukan yang sebenarnya ada perselisihan tajam di antara penulis rujukan tersebut namun biasanya tidak memasukkan perselihannya dalam konsep-konsep yang dibangunnya itu, tapi justru menjadikannya sebagai penguat atas konsep-konsepnya tersebut. Seperti ketika Al-Attas membangun konsep Worldview İslam, rujukan utama bersumber dari tradisi kalam, filsafat dan tasawwuf yang di antaranya ada persinggungan tajam, tapi tidak dipakai untuk memperdebatkan perbedaannya namun justru merekonsiliasi pemikiran-pemikiran yang terkandung di dalam tiga tradisi pemikiran İslam tersebut demi satu konsep yang disebut Worldview İslam.”

Menurut Dimyati, motode Akmaluddin An-Nahjuwani belakangan diangkat oleh Prof Naquib Al-Attas.

Usaha Keras

Pria kelahiran Pamekasan 1979 ini awalnya mengaku harus berusaha dan belajar ekstra keras. Apagi untuk riset manuskrip ini, mahasiswa doktoral diwajibkan mempelajari bahasa Turki yang dikenal rumit.

“Belajar di Turki cukup rumit, terutama bagi pelajar doktoral. Pertama karena bahasa. Rata-rata kampus Turki hanya menggunakan bahasa Turki untuk belajar mengajar, menulis disertasi. Sementara bagi pelajar doktoral, di usia tidak semuda pelajar S1, mempelajari bahasa baru tidaklah mulus,” katanya kepada hidayatullah.com.

Ketika berhadapan dengan penulisan laporan penelitian, tugas-tugas kuliah seperti makalah, bahkan tesis, semua harus berbahasa Turki.

Kerumitan lain, menurut Dimyati, para pelajar doktoral di Turki setelah menghabiskan mata kuliah yang diwajibkan, sebelum memulai menulis disertasi harus melewati ujian komprehensif.

“Pelajar asing cukup terganggu dengan ujian komprehensif ini. Hal itu karena pengujinya didatangkan dari kampus lain dan mereka tidak bisa diperdiksi akan menanyakan materi apa saja dalam ujian tersebut.”

Karena itu tidak sedikit dari pelajar yang tidak bisa meneruskan studi karena tidak bisa melewati ujian komprehensif tersebut.

“Para pelajar post graduate baik S2 atau S3, ketika menulis akan terpecah konsentrasinya kepada dua hal. Pertama bahasa Turki karena ia harus ada proof reading yang bisa mengontrol bahasanya. Kedua kepada isi dari tesisnya yang juga kemungkinan besar menggunakan sumber-sumber Turki,” kata alumni S2 di Universitas Malaya (UM) Malaysia ini.

Bagaimanapun, peraih beasiswa Turki 2013 ini bertekad terus mengkaji khazanah keilmuan, karena menurutnya masih banyak manuskrip yang belum sampai ke masyarakat luas.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Akhmad Rofii Dimyatifilsafat islamIbn SinaKesultanan SeljukManuskrip Langkaputra MaduraSyeikh Muayyad bin Abi Bakar bin Ibrahim Akmaluddin An-NahjuwaniTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hasil Survei: Mahathir Jadi PM Malaysia Jangan Melebihi 2 Tahun
Tulisan selanjutnya Kemenag Gelar Mudzakarah Perzakatan Nasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Berita
28 Agustus 2026 11:26
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?