Hidayatullah.com— Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA turut menanggapi polemik wayang yang masih memanas. Dia membahas soal etika pewayangan yang dicontohkan oleh Walisongo.
HNW mengatakan bahwa Walisongo telah mewariskan budaya wayang yang adiluhung. Ia pun mengungkap cerita wayang yang dibawa Walisongo tak hanya menghibur namun juga bernilai.
“Etika Walisongo lainnya yg diwariskan adalah, adanya carangan, penambahan cerita pewayangan dan tokoh-tokohnya, seperti tokoh-tokoh Punokawan, tapi tokohnya lucu-lucu, menghibur tapi bernilai, ungkapan yg dipergunakan bukan umpatan, apalagi fitnah. Walisongo wariskan budaya wayang yg adiluhung,” ungkap HNW melalui Twitter, sebagaimana dikutip oleh Hidayatullah.com, Rabu (23/2/2022).
Dalam rangkaian twit sebelumnya, dilihat oleh Hidayatullah.com, HNW mengomentari pembahasan tokoh NU, Gus Baha, yang membahas pendapat Walisongo tentang wayang.
“Wayang terkait dengan Walisongo juga. Penjelasan menarik Gus Baha soal hukum wayang menurut Sunan Kalijogo, Sunan Giri dan Sunan Kudus, mengingatkan Umat dan Ulamanya soal adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat) dan pentingnya adab / etika dalam mennyikapi ikhtilaf,” kata HNW.
Dalam kajiannya, Gus Baha menceritakan bagaimana Wali Songo sempat berdebat terkait wayang. Cerita bermula Sunan Kalijaga ingin berdakwah melalui media wayang yang saat itu merupakan kesenian tradisional yang amat melekat di masyarakat Jawa.
Namun, wayang yang digunakan Sunan Kalijaga adalah wayang thengul yang berbentuk arca/manusia. Sunan Giri pun tak setuju lantaran wayang thegul memiliki bentuk yang menyerupai manusia.
Secara hukum menurut Sunan Giri, orang yang membuat patung manusia di akhirat nanti akan dihukum Allah dengan diperintahkan meniupkan ruh ke dalamnya.
Perdebatan antara Sunan Kalijaga dan Sunan Giri sempat membuat keduanya bersitegang. Hingg, Sunan Kudus datang untuk menengahi Sunan Kalijaga dan Sunan Giri.
Masih diceritakan Gus Baha, Sunan Kudus memberikan ide dengan mengakali bentuk dari wayang thegul yang berbentuk seperti manusia. Wayang itu disarankan dipipihkan bentuknya, hingga menjadi wayang kulit.
“Kan masyhur itu, (Sunan) Kalijaga saking inginnya berdakwah di daerah Pajang, daerah sini lho, mulai Pajang daerah sini, di Sragen sampai ke sini. Sampai membuat wayang thengul, wayang thengul itu wayang orang,” kata Gus Baha, dilansir Republika, Rabu (17/2/2022).
“Sunan Giri tidak terima. (Sunan Giri berkata) ‘Itu haram membuat patung. Kalau membuat patung itu nanti di akhirat disuruh memberi nyawa’. Sunan Kalijaga tidak begitu banyak ngaji orang mantan preman jadi wali. Ngaji fashlun itu, nggak begitu banyak ngaji,” ujar Gus Baha.
“Walhasil akhirnya ditengah-tengahi oleh Sunan Kudus yang lebih alim, lebih senior. (Kata Sunan Kudus) ‘Sudah gini aja, wayangnya itu dipenyetkan jadi wayang kulit, karena kalau wayang thengul itu (berbentuk) patung. Tapi kalau gepeng (seperti) kulit sudah tidak bisa dikasih nyawa, sudah penyet semua,” tutur Gus Baha.
Dipipihkannya wayang thegul menjadi wayang kulit, ujar Gus Baha, adalah untuk menghindari keharaman.*