Hidayatullah.com — Sekretaris Kabinet Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu I, Dipo Alam, mengomentari sikap menteri di Swedia yang meminta penghina Islam agar ditangkap. Dipo Alam pun menyinggung “kadrun” dalam komentarnya tersebut.
“Swedia negara minoritas “kadrun”?… “Menkumham dan Menkopolhukamnya” berani tuh perintah “spt pasukan coklat & bnptnya” tangkap yang yang islamophobia?.. 😉,” tulis Dipo Alam lewat Twitter pantauan Hidayatullah.com pada Senin (18/04/2022).
Dalam unggahannya itu (17/04/2022), Dipo Alam mengunggah tautan sebuah media online yang memberitakan sikap Menteri Kehakiman Swedia, Morgan Johansson, yang bersuara terkait bentrok umat Islam dengan polisi di dua wilayah.
Bentrokan di Swedia itu dipicu barisan kelompok penghina Islam yang memprovokasi massa dengan membakar Al-Qur’an.
Kata Morgan Johansson, hukum melindungi kebebasan berpendapat yang sehat bagi demokrasi, bukan pada ranah keyakinan yang jelas-jelas tak boleh disentuh oleh atas dasar apapun.
Negara harus tetap berdiri kokoh bersama orang-orang yang tidak menanggung keyakinan orang lain, kata Morgan Johansson.
“Tidak peduli apa yang dipikirkan orang tentang pesan kebencian ekstremis sayap kanan yang diperjuangkan Paludan,” kata dia.
Rasmus Paludan adalah politisi Swedia-Denmark dan kritikus Islam. Paludan pimpinan kelompok radikal yang kerap menghina Islam dan memprovokasi dengan berbagai kegiatan, termasuk membakar Al-Qur’an.
Rasmus Paludan berani menghina agama Islam dengan dalih tindakannya itu bagian dari kebebasan berbicara yang dilindungi hukum di negara.
“Saat orang salah berpikir, dan memainkan isu agama yang cenderung menghinanya, maka terlihat semua bereaksi dengan kekerasan serius seperti itu,” kata Menteri Kehakiman Swedia.
Morgan Johansson pun, lewat Twiternya, meminta agar polisi bertindak tegas dan menjaga ketertiban.
“Ada baiknya polisi bertindak tegas untuk menangani para pelaku yang merupakan barisan Paludan dan menjaga ketertiban. Saya harap polisi yang terluka dapat pulih dengan cepat,” sebut Morgan Johansson.
“Orang-orang di balik kerusuhan dengan kekerasan tidak mewakili mereka yang tinggal di daerah itu. Sebagian besar wilayah rentan hanya menginginkan kedamaian dan ketenangan dan dapat menjalani kehidupan mereka,” tambahnya dikutip Pikiran-rakyat.com (15/04/2022).*