Hidayatullah.com — Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni mengungkap rencana internasionalisasi pendidikan Muhammadiyah. Hal itu, katanya, sebagai kontribusi melihat perkembangan paham pendidikan di Dunia Islam yang ekstrim kanan dan ekstrim kiri.
Syafiq Mughni mengatakan pandangan keagamaan yang dimiliki oleh Muhammadiyah harus diinternasionalisasi sebab sangat dibutuhkan oleh Dunia Islam. Internasionalisasi Muhammadiyah, menurutnya, harus memberikan timbal balik, yakni peningkatan kualitas pendidikan di dalam negeri.
Syafiq menambahkan bahwa Muhammadiyah perlu untuk andil dalam tata dunia baru yang beradab. Setelah melakukan pertemuan dengan realitas pendidikan dunia internasional, Muhammadiyah harus sadar dan kembali memberikan timbal balik pada pendidikan Muhammadiyah di dalam negeri.
“Yang keempat adalah bagaimana kita meningkatkan pencepatan sumber daya insani dengan peluang yang dimiliki dan tantangan yang dihadapi tentu Muhammadiyah mau tidak mau dengan sendirinya berupaya untuk meningkatkan sumber daya insani itu,” kata Syafiq pada pada Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah – ‘Aisyiyah ke-48 yang diadakan di UMS, Senin (30/5/2022).
Internasionalisasi Muhammadiyah, ungkap Syafiq, juga sebagai langkah memperluas akses pendidikan bagi kader-kadernya yang potensial. Sementara itu terkait dengan bentuk internasionalisasi, Syafiq menjelaskan langkah itu ditempuh dengan pendirian berbagai lembaga pendidikan dan ekstensifikasi dan intensifikasi cabang Muhammadiyah internasional di Negara-negara.
Bentuk lain internasionalisasi Muhammadiyah, ujar Syafiq, adalah dengan mengembangkan sister organisasi, atau organisasi yang memiliki kesamaan peran, visi dan misi dengan Muhammadiyah. Selain itu, bentuk lainnya yakni dengan akselerasi beasiswa internasional baik dalam bentuk inbound dan outbound.
“Kita juga memiliki bentuk pertukaran guru, dosen, siswa, mahasiswa kita kirim mereka ke sana dan mereka juga percaya belajar ke sini. Kita perkuat program-program visiting scholars dan juga visiting professor,” imbuhnya.
Syafiq mengatakan internasionalisasi Muhammadiyah juga dilakukan melalui kolaborasi penelitian, penerjemahan dan publikasi. Magister Universitas California ini menjelaskan bahwa, internasionalisasi Muhammadiyah juga melalui penerjemahan karya-karya tentang Muhammadiyah ke bahasa asing.
“Kita jadikan mereka harus belajar dari kita, mereka harus belajar lebih intensif lagi kepada masyarakat Indonesia khususnya Muhammadiyah, dan kita tidak lagi berjalan searah, kita mengimpor pemikiran-pemikiran mereka, tapi kita sudah saatnya mengekspor pemikiran dari kalangan Muhammadiyah,” ujarnya.
Bentuk terakhir dari hal tersebut, papar Syafiq, adalah melakukan pelembagaan pusat-pusat studi internasional di Perguruan Tinggi Muhammadiyah – ‘Aisyiyah (PTMA). Menurutnya, akan kesulitan memiliki peneliti yang kompeten untuk mengamati kawasan-kawasan jika tidak memiliki pusat studi tentang kawasan tersebut.*