Hidayatullah.com & SahabatalAqsa.com–Pada tanggal 29 Mei 2010, dua hari sebelum penyerangan Israel atas Freedom Flotilla to Gaza, delegasi Indonesia dan Malaysia berkesempatan berdialog dengan Syeikh Ra’id Salah, pimpinan gerakan “Palestina 1948?, di atas kapal Mavi Marmara. Syeikh Ra’id Salah kini dikabarkan kembali ditahan Israel karena keterlibatannya dengan misi kemanusiaan ini.
Tidak kurang dari 60 sinagog Yahudi sudah didirikan untuk mengepung komplek Al-Quds atau Masjidil Aqsa, bagaikan tangan yang dibungkus dan diikat rapat, sehingga sama sekali tidak bisa bergerak. Selain itu, tentara penjajah Israel juga telah mendirikan puluhan pos pemeriksaan militer di atas kerat-kerat tanah komplek Al-Quds.
“Bayangkan kalau hal itu terjadi di Masjidil Haram dan Ka’bah, tentu kita segera terbang membela masjid suci itu dari perampokan,” kata Syeikh Ra’id Salah, dalam majelis khusus dengan delegasi Indonesia-Malaysia, di atas Mavi Marmara, kapal utama kafilah Freedom Flotilla yang sedang menuju Gaza.
Syeikh Ra’id adalah ketua organisasi “Palestina 1948”, organisasi rakyat Arab Palestina yang memperjuangkan kembalinya seluruh tanah wakaf umat Islam dalam bentuk Palestina merdeka yang utuh sesuai batas-batasnya tahun 1948, dengan Al-Quds sebagai ibukotanya. Tidak dipecah-pecah seperti sekarang, sebagian di Gaza, sebagian di Tepi Barat.
Sudah berkali-kali ia dipenjarakan dan diteror oleh tentara penjajah Israel. Pria yang dijuluki “Jurubicara Masjidil Aqsa” oleh rakyat Palestina ini menjelaskan bahwa komplek Masjidil Aqsa luasnya 144 dunum (1 dunum = 1000m2).
Menurut Syeikh Ra’id, tentara penjajah Israel, menerapkan peraturan yang terus berubah-ubah bagi siapa yang hendak masuk dan shalat di Masjidil Aqsa. “Terkadang dibatasi harus di atas usia 50 tahun, minggu berikutnya diturunkan 45 tahun, minggu berikutnya hanya boleh shalat Jumat, minggu depannya lagi shalat Jumat pun harus bawa ID card, begitu seterusnya,” kata Syeikh Ra’id.
Intinya, menurut beliau, Israel ingin agar Masjidil Aqsa terputus dari kehidupan warga Muslim Palestina dengan cara membuat mereka setidaknyaman mungikin untuk masuk ke Aqsa.
Meremehkan Al-Aqsa
Menurut Syeikh Ra’id, Masjidil Aqsa disebut secara spesifik oleh Allah di dalam Al-Quran, karena itu, terancamnya Al-Aqsa adalah sebuah isu Al-Quran, isu Aqidah. “Siapa yang menganggap remeh isu terancamnya Al-Aqsa ini berarti dia meremehkan Al-Quran,” tegasnya.
Syeikh Ra’id juga menyebutkan strategi operasi pendirian negara Israel yang lebih setengah abad silam diletakkan oleh David Ben Gurion, Perdana Menteri Israel yang pertama, “Tidak akan berdiri Israel tanpa dikuasainya Al-Quds, dan tidak akan dikuasai Al-Quds tanpa berdirinya Haikal (kuil Yahudi).”
Menurutnya, Israel telah berhasil mendirikan Israel dan menguasai Al-Quds, tapi sampai hari ini mereka belum mendirikan Haikal. “Kenapa?” tanya Syeikh Ra’id kepada delegasi Indonesia-Malaysia.
Beberapa orang coba menjawab, dan jawaban itu dianggap baik oleh beliau. Namun Syeikh Ra’id memberikan jawabannya sendiri, “sebab Israel tidak akan mendirikan Haikal kecuali di atas tanah yang sekarang berdiri Masjidil Aqsa di atasnya. Artinya apa? Artinya Haikal Yahudi hanya akan bisa berdiri kalau Masjidil Aqsa dihancurkan tanpa bekas.”
Akhirnya Syeikh Ra’id yang kalem, tawadhu, dan murah senyum ini, mengingatkan bahwa kini semakin besar tanda-tanda akan terjadinya An-Nakbah kedua.
An-Nakbah (Musibah Besar) menimpa rakyat Palestina selama kurun waktu menjelang pendirian negara Israel bulan Mei 1948, dan beberapa waktu sesudahnya.
Menurut Syeikh Ra’id, selama terjadi An-Nakbah, Israel yang dibantu sepenuhnya oleh Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, melakukan tiga tindakan kriminal besar.
Kriminalitas pertama, menghancurkan 500 kampung dan desa Palestina tanpa bekas.
Kriminalitas kedua, menghancurkan 1200 masjid tanpa bekas bangunan.
Kriminalitas ketiga, membunuh sebanyak mungkin orang Palestina, mengusir sebanyak mungkin, dan menteror terus-menerus semua orang Palestina yang tersisa sehingga selalu hidup dalam ketakukan.
An-Nakbah Kedua
“Sesudah peristiwa An-Nakbah jumlah warga Palestina yang tersisa di wilayah yang dijajah Israel sepenuhnya hanya tinggal 90 ribu orang, termasuk kami berdua,” Syeikh Ra’id menunjuk rekannya, Muhammad Zaidan, ketua Komite Penindakanjutan Hak-hak Rakyat Palestina.
Saat ini, menurut Syeikh Ra’id, ada tiga tanda besar akan terjadinya An-Nakbah yang kedua: pertama, Knesset, parlemen Israel telah mengeluarkan undang-undang baru yang membolehkan pemerintah mengusir dan membatalkan kewarganegaraan seseorang yang menentang negara Israel dari tanah Palestina.
Tanda kedua, rabi-rabi utama Yahudi telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang secara terang-terangan menghalalkan darah orang Palestina.
Tanda ketiga, makin seringnya terjadi penghancuran paksa rumah-rumah warga Palestina yang dikawal oleh ratusan tentara Israel untuk diubah menjadi pemukiman Yahudi.
Menurut Syeikh Ra’id, “Batu kilometer yang akan dicapai adalah pendirian negara Israel Raya, yang syarat utamanya adalah diusirnya seluruh warga Palestina yang masih tersisa didalam yangt kini jumlahnya diperkirakan 1,5 juta orang, dan dihapusnya hak kembali bagi mereka yang berada di luar Palestina.”
Tahun 2010 ini, menurut Syeikh Ra’id adalah tahun yang sangat penting, karena Zionis Israel mencanangkan tahun ini sebagai tahun untuk mewujudkan kata-kata Ben Gurion tadi, “…tidak akan dikuasai Al-Quds, kecuali dengan berdirinya Haikal (hancurnya Masjidil Aqsa).” Karena itu Syeikh Ra’id berpesan ke seluruh umat Islam sedunia, “Bangunlah, Masjidil Aqsa sungguh-sungguh sedang terancam. [Dzikrullah, Santi Soekanto, Surya Fachrizal/hidayatullah.com]