Hidayatullah.com–Militer penjajah Israel telah mengirim lebih dari 100 penembak jitu ke Perbatasan Gaza sebagai persiapan demonstrasi massal Palestina yang direncanakan di dekat perbatasan wilayah terkepung itu, ujar seorang jenderal tinggi Israel dikutip Midle East Eye hari Rabu.
Penyelenggara berharap ribuan orang di Gaza akan menjawab panggilan mereka untuk berduyun-duyun, dimulai pada Jumat, membangun tenda di lima lokasi di sepanjang perbatasan dalam enam minggu demonstrasi yang meminta hak kembali para pengungsi Palestina ke tanah mereka yang saat ini dijajah Israel.
Menyebut khawatir akan keamanan, militer Israel memberlakukan zona “terlarang” bagi penduduk Palestina di daerah di Gaza yang berdekatan dengan tembok perbatasan Israel.
Letnan Jenderal Gadi Eizenkot, kepala staf militer, mengatakan pada harian Yedioth Ahronoth bahwa militer tidak akan membiarkan “penyusupan massal” atau mentolelir kerusakan pada tembok selama demonstrasi.
“Kami telah menempatkan lebih dari 100 penembak jitu yang diambil dari semua unit militer, terutama dari pasukan khusus,” Eizenkot mengatakan dalam wawancara.
Baca: Pasukan Israel Tembak Mati Warga Palestina Tersangka Pembunuh Rabi Yahudi
“Jika keadaan menjadi berbahaya, ada izin untuk melepaskan tembakan.
“Kami tidak akan membiarkan penyusupan massal ke dalam Israel dan kerusakan pada pagar, dan tentu saja agar tidak mencapai masyarakat.”
Merespon demonstrasi penduduk Palestina di sepanjang perbatasan Gaza tentara penjajah Israel telah menggunakan, gas air mata, peluru karet dan peluru tajam terhadap para demonstran.
Penyelenggara mengatakan demonstrasi itu didukung oleh beberapa faksi Palestina, termasuk gerakan Hamas, yang telah mengelola kantong wilayah itu sejak Israel memblokadenya pada tahun 2007.
Menteri kabinet Israel Tzachi Hanegbi, berbicara di Radio Israel, mengatakan Hamas telah menghindari konflik langsung dengan Israel sejak berakhirnya Perang Gaza pada 2014.
Baca: Horor Sniper dalam Intifada al-Quds, 1,5 Juta Warga Israel Ketakutan
Tetapi dia mengatakan bahwa tekanan yang Hamas rasakan dari penghancuran jaringan terowongannya dekat perbatasan oleh Israel, yang melipatgandakan kondisi ekonomi yang buruk di Gaza, merupakan “sebuah formula untuk meningkatkan ketegangan”.
Munculnya demonstrasi itu secara simbolis berhubungan dengan apa yang rakyat Palestina sebut sebagai “Land Day“, yang memperingati terbunuhnya enam penduduk Arab oleh pasukan keamanan penjajah Israel dalam demonstrasi pada 1976 terkait penyitaan tanah.
Peringatan Yahudi “Passover” yang berlangsung selama seminggu penuh, ketika Israel memperketat keamanan, juga dimulai pada Jumat.
Demonstrasi penduduk Palestina itu dijadwalkan berakhir pada 15 Mei, pada peringatan “Nakba” (Malapetaka), pengusiran paksa ratusan ribu penduduk Palestina dalam konflik yang menuntun pada deklarasi Israel 1948.
Rakyat Palestina telah sejak lama menuntut agar lima juta warganya diberikan hak untuk kembali ke tanah mereka. Israel menolak mengabulkan hal itu.*/Nashirul Haq AR