Hidayatullah.com–“Kedua lengan Ibrahim dipotong. Sebuah lubang menganga di paru-parunya. Beberapa bagian dari kakinya hilang. Ginjalnya dalam kondisi buruk. Kami butuh orang-orang yang rela mendampingi kami, di sisi kami,” tutur seorang lelaki yang tampak terlalu letih itu saat menjelaskan kondisi anaknya yang sekarat kepada situs The Real News.
Ibrahim Zaza adalah seorang anak lelaki berusia dua belas tahun. Ia dan sepupunya, Mohammed, 14 tahun, diserang misil Zionis. Ditembakkan dari pesawat berawak saat sedang bermain di depan rumah mereka di Gaza.
Disembunyikan Media
Kisah ini terjadi 18 Agustus lalu. Keesokan harinya, harian British Telegraph menurunkan berita: “Israel” Melawan Serangan Militan di Perbatasan Mesir. Serangan-serangan Zionis terhadap Gaza, penghancuran desa-desa, dan pelanggaran hak asasi manusia tidak disebutkan sama sekali oleh para reporter. Hal ini membuat semua orang bertanya mengapa selalu menggunakan sudut pandang tentara Zionis dalam menyampaikan cerita?
Rakyat Palestina dihukum atas sebuah serangan yang terjadi di perbatasan “Israel” dan Mesir. Tidak ada bukti bahwa Gaza terlibat dalam serangan tersebut. Bahkan Mesir mencurigai bahwa “Israel” berperan dalam kejadian itu.
Di dunia media, persoalan Palestina hanya terasa penting ketika sejumlah besar manusia menjadi korban. Bahkan, alih-alih menunjukkan simpati, media justru menyalahkan militan Palestina adalah pihak yang bertanggung jawab. Sementara “Israel” hanya mempertahankan diri demi keamanan.
Kata “keamanan” pun hanya boleh digunakan oleh Zionis. Keamanan Palestina sama sekali tidak diperhitungkan, meski ribuan rakyat Gaza telah dibunuh selama tiga tahun terakhir.
Kursi Roda
Ayah Ibrahim Zaza, yang mengantongi izin untuk menemani Ibrahim dan Mohammed ke Rumah Sakit “Israel”, ditahan di rumah sakit tersebut karena dianggap mengancam keamanan. Ia pun terus mengelilingi tubuh lemah anaknya. Sambil berharap dan berdoa.
Ia meminta dukungan orang-orang untuk membantunya membeli kursi roda. Karena ia berpikir Ibrahim akan membutuhkannya begitu ia bangun.
Akan tetapi, Ibrahim tidak lagi membutuhkan kursi roda. Ia juga tidak lagi butuh pengobatan untuk luka-lukanya, untuk kakinya yang lepas seluruh kulitnya, untuk perutnya yang terkoyak.
Kematian Ibrahim hanya menarik sedikit, jika memang ada, pemberitaan media. Tidak ada fitur New York Times. Tidak ada ulasan foto sang ibu yang menangis dan masyarakat yang menderita. Tidak akan ada perdebatan mengenai pesawat tempur Zionis yang digunakan untuk membunuh rakyat sipil.
Keberadaan Ibrahim amatlah singkat. Kepergiannya tidak dirasakan orang-orang di luar keluarganya.
“Logika” Tak Masuk Akal
Dalam laporan video The Real News, Lia Tarachansky berbicara kepada Letkol Avital Leibowitz, juru bicara Pasukan Pertahanan “Israel”.
Lia Tarachansky: “Hanya ada satu tembakan misil. Sementara menurut para saksi, tembakan tersebut memang ditargetkan kepada dua anak berusia 12 dan 14 tahun yang sedang duduk di depan rumah mereka.”
Avital Leibowitz: “Logikanya, apabila seseorang mencoba meluncurkan roket kepada kita. Maka lebih baik menarget orang tersebut sebelum kita yang menjadi target.”
Foto Ibrahim Zaza yang tersenyum sipu, menjadi saksi satu lagi korban “logika” Zionis yang tidak masuk akal.*