Hidayatullah.com-Perjuangan untuk mengembalikan pengelolaan Blok Mahakam ke Pertamina terus berlanjut. Marwan Batubara salah satu penggerak dari kelompok yang menamakan diri Petisi Blok Mahakam Untuk Rakyat semakin lantang berbicaya.
Di sela-sela kegiatan diskusi ‘Kembalikan Blok Mahakam kepada Anak Bangsa, Rabu (02/10/2013) Marwan berbagi cerita dengan hidayatullah.com. Lelaki kelahiran Sumatera Utara inipun mengutarakan banyak kekhawatirannya terkait sumber daya alam Indonesia yang dikuasai asing. Terutama keberadaan blok Mahakam yang hingga kini masih terus diperjuangkan dirinya untuk dikembalikan pengelolaannya kepada anak bangsa.
Bagaimana perkembangan perjuangan blok Mahakam hingga saat ini?
Saya melihat prospek untuk diperpanjangan semakin besar. Perusahaan asing Total E&P Indonesie semakin gencar melakukan promosi dan lobi, sementara pemerintah kurang serius mendengarkan aspirasi rakyatnya sendiri. Kalau pemerintah serius harusnya masalah ini bisa selesai dari setahun yang lalu. Sangat aneh, belum ada tanggapan serius dari pemerintah untuk mendukung BUMN. Mereka justru seperti sengaja mendiamkan perusahaan asing yang menguasai aset-aset sumber daya alam Indonesia.
Apa saja promosi dan lobi yang dilakukan perusahaan asing tersebut?
Mereka semakin gencar melakukan promosi. Bukan hanya di media besar dan mainstream. Mereka masuk ke kampus-kampus dan memberikan beasiswa untuk mencari dukungan. Mereka berusaha untuk merubah opini masyarakat bahwa kehadiran mereka dalam mengelola blok Mahakam itu menguntungkan bagi Indonesia, padahal kenyataannya banyak kerugian yang dialami oleh Indonesia.
Kerugian seperti apa?
Pada 11 Juli 2013, wakil Presiden Senior Total E&P Asia Pasifik, Jean Marie Gullermo menawarkan kepemilikan saham sebesar 30% kepada Pertamina. Sisanya, 70 persen adalah alokasi saham untuk mereka, kalau ini terjadi maka memang benar pemerintah kita tunduk pada asing. Selain itu, Total E&P juga sudah berencana berinvestasi padahal kontrak perpanjangan dari pemerintah belum ada, inikan jelas mengada-ngada. Perusahaan asing ini sudah seenak-enaknya mengatur saham dan memonopoli kebijakan perpanjangan kontrak. Pemerintah harusnya tidak tunduk pada perusahaan asing. Kita ini negara berdaulat bukan sekedar perusahaan.
Banyak orang mengkhawatirkan jika Pertamina mengambil alih Blok Mahakam maka akan terjadi penurunan produksi?
Penurunan produksi pasti ada. Tapi fokus kita saat ini adalah membebaskan aset-aset sumber daya alam bangsa dulu dari penjajahan asing.
Setelah itu terjadi kita bersama-sama memulai membangun kembali kekuatan produksi kita. Ini penjajahan bentuk baru lebih berbahaya dari menurunnya angka produksi. Angka produksi yang menurun bisa kita kejar bersama bukan justru mengandalkan kekuatan asing yang sebenarnya tidak memberikan keuntungan signifikan kepada kita.
Kenapa hanya Blok Mahakam saja? bagaimana dengan blok-blok yang lain?
Blok Mahakam adalah salah satu yang strategis dan terbesar di Indonesia. Jika blok Mahakam berhasil kita menangkan maka ia akan jadi miniatur perjuangan untuk mengembalikan aset sumber daya alam yang lain.
Apa langkah terbaru yang akan dilakukan oleh Petisi Mahakam untuk membatalkan kontrak perpanjangan tersebut?
Kami mengajak semua elemen untuk peduli. Kita bisa belajar pada negara Venezuela saat Hugo Chaves mengusir perusahaan Exxon. Ada harga diri kita sebagai bangsa Indonesia yang harus kita jaga. Jangan tertipu dengan iming-iming beasiswa dan kampanye mereka tentang pemberdayaan alam. Karena sebenarnya kita hanya dimanfaatkan. Mereka ingin kita kehilangan fokus untuk memahami duduk masalah Blok Mahakam yaitu eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan mereka. Kita harus terus memperjuangkan agar semua sumber daya alam kita tidak lagi dikuasai asing.*