Hidayatullah.com-Subuh itu Masjid Jogokaryan agak berbeda. Jamaahnya penuh, sebagian di antaranya anak-anak muda. Mereka para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Tampaknya, mereka tertarik dengan penceramah yang akan mengisi kuliah subuh di masjid yang punya banyak kegiatan dakwah itu. Penceramahnya adalah seorang cendikiawan muda yang cukup cermelang. Namanya Fahmi Salim (35). Kebetulan, masjid ini punya anak muda yang juga cemerlang. Namanya hampir sama, Salim A Fillah, dikenal sebagai dai dan penulis buku-buku best seller.
Pada salah satu bagian ceramahnya subuh itu, Fahmi mengatakan bahwa umat Islam sekarang sedang menghadapi perang istilah, dimana ini bagian dari ghazwul fikri (perang pemikiran). Perang itu dilakukan dengan menyimpangkan istilah-istilah yang ada dalam Islam dari makna yang sesungguhnya. “Tujuannya mula-mula menanamkan keragu-raguan hingga akhirnya menjadi pembaratan,” jelas peraih magisterbidang Tafsir dan Ilmu al-Qur`an Universitas Al Azhar, Kairo Mesir.
Salah satu istilah yang diselewengkan dari makna sesungguhnya itu, lanjut Fahmi, adalah istilah Islam rahmatan lil alamin. Oleh kaum liberal, makna istilah ini dipelintir menjadi moderat atau toleran. “Maksudnya toleran terhadap apa saja, termasuk toleran atau membolehkan kemaksiatan atau hal-hal yang diharamkan,” jelas Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jakarta ini.
Fahmi memang dikenal sangat kritis terhadap tema-tema yang diusung kalangan liberal. Itu bisa dilihat dari salah satu bukunya berjudul Tafsir Sesat. Buku ini sepertiga isinya mengkritisi pemikiran-pemikiran liberal. Di antara bab dalam buku tersebut berjudul Mis-Konsepsi Liberal tentang Ijtihad Umar, Konfesi Tafsir Kaum Pluralis dan Grand Strategy Liberalisasi Al-Qur`an.
Fahmi juga beberapa kali berdebat langsung dengan para pemikir liberal, misalnya dengan dedongkot liberal Ulil Abshar Abddalla. “Saya dua kali dipertemukan dengan dia dalam sebuah forum,” kata anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat dan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah ini.
Dengan Ulil pula Fahmi berdebat seru lewat dunia maya soal nikah beda agama. Ulil setuju sedang Fahmi jelas menolak. Selengkapnya bisa di lihat twitter.com/Fahmisalim2 atauchirpstory.com/li/79633.
Berkali-kali berdebat dengan tokoh liberal, apa kesan dia terhadap mereka dan ada apa dibalik tema-tema yang diusung kaum liberal? Dosen di UHAMKA ini menceritakan kepada Bambang S dari Suara Hidayatullah. Ikuti tulisan berikutnya: