Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Media Visual Pengaruhi Karakter Anak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Juni 2013 01:20 1:20 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Juni 2013 01:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Masih ingat tragedi “pemotongan” burung seorang remaja laki laki berinisial AM oleh seorang wanita sebayanya di Tangerang, Banten? Kasus ini marak diangkat media sebab terbilang langka terjadi.

Dari pengakuan keduanya, menunjukkan jika mereka memang telah saling kenal. Perkenalan itu begitu intim yang kemudian berujung pada kejadian nahas tersebut.

Tidak jauh dari Tangerang, seorang tukang ojek yang masih belia di Bogor, Jawa Barat, dikabarkan nekat memperkosa seorang gadis muda. Namun aksi nekat remaja belasan tahun itu digagalkan sekawanan pelajar yang menyaksikan perbuatan bejat itu.

Berkaca dari banyak kasus serupa yang melibatkan anak remaja, menunjukkan ada gejala baru yang tumbuh dalam pergaulan muda mudi. Umumnya, baru kenal beberapa hari memalui media jejaring sosial, langsung janjian bertemu, lalu tiba-tiba hilirnya terjadi praktik asusila.

Melihat gejala tersebut, pemerhati sekaligus praktisi masalah pendidikan anak dan remaja, Rita Sahara, memandang ada yang keliru dalam skema pendidikan kita.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

“Kebanyakan para orangtua berprinsip bahwa sekolah menjadikan mereka (murid, red) menjadi pintar,” katanya.

Bagaimana pula pendapatnya tentang adanya dikotomi pendidikan? Apakah ini juga berdampak pada output anak didik?

Kontributor hidayatullah.com di Mamuju, Muhammad Bashori, mewawancari Rita Sahara, seorang praktisi dunia pendidikan yang berkunjung ke kota itu dalam sebuah acara seminar pendidikan, awal bulan Juni ini. Berikut petikannya.

Dewasa ini santer pemberitaan remaja pelajar berani memperkosa, gejala apa ini?

Pertama tentu saja karena tidak adanya benteng diri. Kasus-kasus seperti itu juga muncul lebih karena pengaruh media dan lingkungan. Anak-anak, bahkan hingga usia remaja, sebenarnya belum memiliki cukup imunitas diri untuk dapat memfilter dengan baik setiap informasi yang datang dalam bentuk audio, visual, maupun grafis.

Di waktu yang sama mereka terlalu leluasa dan mendapat akses yang sangat luas untuk menikmati tayangan klise di televisi yang, pelan tapi pasti, akan memenjarakan jatidiri mereka sendiri. Jika tanpa kontrol, ini akan semakin berbahaya.

Tidak sedikit kasus yang terjadi justru pelaku asusila berlatar belakang pendidikan agama. Apakah ini artinya institusi sekolah telah gagal?

Jika disebut gagal, sebenarnya tidak. Fungsi-fungsi institusi pendidikan agama tetap utama. Hanya saja, jika demikian yang terjadi, berarti mereka belum memahami ajaran Islam. Tidak ada internalisasi nilai-nilai Quran yang berlangsung, adab hanya ada pada tataran teori.

Artinya, pendidikan bagi mereka hanyalah sebuah rutinitas saja, bukan lagi sebagai proses untuk mengarah kepada sesuatu yang lebih baik.

Sebab, apabila siklus yang berkembang di institusi pendidikan hanya berupa rutinitas kerja saja, maka tidak bisa diharapkan sepenuhnya ada totalitas dan loyalitas dari proses kerja yang berlangsung di dalamnya. Kalau keberadaan guru hanya sebagai guru dan pelajar hanya sebagai pelajar saja, tidak akan ada proses perbaikan perbaikan diri. Dalam Islam, guru adalah pengayom, pendidik, bukan sekedar pengajar. Sedangkan pelajar adalah murid, bukan sekedar pelajar.

Benarkah ada dikotomi pendidikan, seberapa besar dampaknya terhadap output pendidikan?

Umumnya sudah tidak ada. Tapi di sekolah-sekolah tertentu ada yang masih melakukan pemisahan. Memisahkan dan membagi porsi antara pendidikan keagamanaan Islam dengan pendidikan umum di mana biasanya yang pendidikan agama dan moral yang diminimalisir jamnya.

Tetapi yang unik dan cukup membanggakan, sekarang fenomenanya muncul gerakan-gerakan keislaman dari sekolah-sekolah yang dalam tanda petik masih mendikotomikan antara pendidikan umum dan agama. Ketika kita telusuri, ternyata, ada kerinduan murid-murid itu terhadap kerohanian Islam. Mereka mendapatkan waktu yang sedikit untuk pendidikan agama namun mereka dengan kemandiriannya mampu membangun sebuah komunitas bina iman.

Yang aneh sekarang, adalah kenapa justeru dari lembaga dan institusi pendidikan Islam itu yang sepertinya sedikit militansinya dalam masalah pendidikan agama ini.

Seberapa penting hubungan kepengasuhan di sekolah dengan di rumah?

Orangtua harus memahami proses dan prinsip pendidikan. Karena kebanyakan para orangtua berprinsip bahwa sekolah akan menjadikan anak mereka menjadi pintar dan menjadi shaleh. Mereka berani bayar mahal berapa pun demi keyakinannya itu. Kalau kita kembali ke rumah, perilaku asusila dan amoral anak sangat berpengaruh terhadap konsep berpikir orangtua.

Apa yang seharusnya dipahami orangtua dalam mendidik anak?

Orangtua harus melihat bahwa pendidikan adalah sebuah proses perbaikan dan dalam pendidikan itu harus menyeluruh dan seimbang. Artinya, orangtua tidak saja berharap kepada sekolah untuk membentuk karakter anak-anak mereka. Tapi orangtua harus terlibat secara aktif, melakukan interaksi dengan anak-anaknya. Membangun komunikasi dan keakraban.

Jangan sampai berfikir proses pendidikan itu hanya pada ranah kognitif saja, padahal harus seimbang dari berbagai ranah yang dibutuhkan anak-anak.

Dan, orangtua harus menumbuhkan kesadaran bahwa dengan pendidikan anak-anak harus memiliki tanggung jawab yang sesungguhnya. Khususnya bagi keluarga muslim harus memahamkan kalau tugas kita sebagai khalifah Allah.

Orangtua harus mencari tahu apa dan bagaimana proses pendidikan anaknya, apalagi sekarang banyak program-program parenting yang sifatnya umum belum spesifik kepada pembentukan mental spiritual anak.

Bagaimana seharusnya lembaga pendidikan yang ideal untuk anak menurut Anda?

Idealnya, orangtua menerapkan sekolah yang berbasis keluarga mulai dari rumah. Pola ini sangat mengena bagi anak. Sehingga di sana ada ranah seorang ibu yang berwibawa ada tokoh kakak seperti dalam sebuah keluarga.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya GCC Nyatakan Hizbullah Sebagai Organisasi Teroris
Tulisan selanjutnya Peserta Dialog Internasional dari Arab Saudi Tiba

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?