DI SUDUT sebelah pojok utara masjid, duduk seorang pemuda berhadapan dengan sang-guru. Di pangkuannya terdapat buku panduan mengaji anak-anak TPQ (Taman Pendidikkan Al-Quran), Iqro’. Dengan penuh antusias, dia berusaha mengikuti apa yang diucapkan oleh sang-murabbi dari buku tersebut, “Aliif, Baa, Taa, Tsaa”, ujarnya dengan nada tinggi penuh semangat.
Pemuda yang saat ini duduk di semester pertama salah satu perguruan tinggi Islam, Surabaya ini, bukan tengah belajar metode pengajaran Al-Quran yang efektif untuk anak-anak usia dini (TPQ), namun dia memulai mengaji dengan menggunakan buku tersebut, karena memang dia belum lancar mengaji, atau lebih tepatnya belum bisa mengaji.
Didin Rakhim Ferianto, nama pemuda tersebut, bukan seorang muallaf yang baru masuk Islam. Akan tetapi, karena mengakui merasa bodoh dalam memaknai hakekat kehidupan di dunia ini.
Laki-laki yang memiliki hobi sepak bola ini, terlahir di tengah-tengah keluarga yang awam akan urusan agama. Semenjak kecil, dia sudah aktif membantu orang tuanya bekerja, yang memang memiliki bisnis pembuatan dawet.
Karena tidak pernah mendapat pengetahuan agama, maka yang ada pada pikiran Didin, begitu laki-laki berperawakan kalem ini sering disapa, adalah mencari uang sebanyak-banyaknya. Motto ‘Time is money’ benar-benar menjadi pegangan hidupnya. Terlebih, orang tuanya pun sangat mendukung dirinya untuk menjadi orang yang berhasil dalam
bidang materi.
Dengan kondisi demikian, maka tak heran urusan agama akhirnya mereka tepatkan pada posis yang ke sekian. Jangankan mengaji, sholat pun telah mereka tinggalkan, “Seingat saya, sangking tidak pedulinya kami terhadap agama, ibu itu tidak punya mukena di rumah,” kenangnya dengan mata berkunang-kunang.
Hal yang tak jauh berbeda, juga dihadapi kelahiran 21 tahun silam ini. Dia menuturkan, semenjak kelas empat SD (Sekolah Dasar), dia tidak pernah lagi mengaji. Keinginan bisa baca al-Qur’an nyaris tidak ada dalam benaknya. Yang ada hanyalah bagaimana mencari dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.
Dan memang benar, di usianya yang masih sangat muda, Didin telah mampu hidup mandiri dari hasil uang kerjanya yang ditabung sedikit demi sedikit. Tidak hanya itu, untuk membeli sepeda motor kelas atas, dia sudah mampu tanpa harus membebani ke dua orang tuanya sepeser pun.
Banyak Obsesi
Dalam dunia olah raga, mahasiswa yang mengambil jurusan dakwah ini memiliki kepiawaian dalam mengolah si-kulit bundar. Tak ayal, hal ini menumbuhkan minatnya untuk menseriusi dunia yang satu ini.
Sebenarnya, langkah menuju ke sana telah terbetang luas. Dia pernah lolos seleksi kabupaten Malang, untuk mengikuti turnamen sepak bola antar provinsi.
Guru-guru dan teman-temannya pun sangat apresiatif terhadap pilihannya. Mereka yakin dengan bakat yang dimiliki pemuda kelahiran asli Malang ini, di kemudian hari dia bisa menjadi bintang baru Garuda (Timnas), dan khususnya Arema (nama club sebuah sepak bola Malang).
Namun setelah bermusyawarah dengan pihak keluarga, Didin pun dengan lapang dada memupus cita-citanya tersebut. Obsi selanjutnya, setelah lulus sekolah menengah pertama (SMA) ialah mendaftar menjadi ABRI atau polisi.
Karena begitu kuatnya keinginan tersebut, dan dukungan keluarga, dana yang memang tidak sedikit telah mereka persiapkan.
“Bagi orangtua, yang penting saya mendapat jaminan diterima, maka dana seberapa pun akan di persiapkan” jelasnya.
Dan setelah kembali bermufakat, diambil kesepakatan untuk mendaftarkan diri Didin di kepolisian.
Tersentuh Hidayah
Tidak lama setelah menetapkan ‘pelabuhan’nya untuk meneruskan sekolah di kepolisian. Suatu hari, Didin berkenalan dengan seorang ustadz di daerahnya, yang memang memiliki jam terbang dakwah sangat tinggi. Dari sosoknya yang bersahaja, lagi sederhana, membuat Didin ‘jatuh hati’ pada sang-ustadz.
Dia sangat kagum menyaksikan keseharian ustadz, yang setiap saat disebukkan dengan kegiatan dakwahnya. Selain itu, kegemarannya yang membaca kitab-kitab yang bersangkutpautan dengan Agama, membuat Didin merasa malu bila dia bandingkan dengan kesehariannya yang selalu bekerja dan bekerja dan mengabaikan urusan agama.
Karena kagumnya Didin dengan beliau, apa pun yang dinasehatkan ke padanya, senantiasa selalu ditaati termasuk mengikuti suatu pengajian di salah satu masjid di daerahnya, yang kemudian menjadi titik balik Didin untuk serius mendalami agama.
Dalam pengajian tersebut, bungsu dari dua bersaudara ini sangat tersentuh dengan apa yang disampaikan sang-penceramah. Saat itu, sang-penceramah memaparkan tentang hakekat kehidupan yang sejati, “Beliau menjelaskan bahwa hidup kita ini, tidak terbatas di dunia saja. Namun juga di akhirat. Karena itu kita perlu menyiapkan bekal guna menghadapi kehidupan yang tidak berguna lagi harta benda dan sebagainya. Dan modal utama untuk sukses di alam akhirat kelak, hanyalah amal sholeh,” terang Didin.
Sontak saja, penjelasan yang begitu lugas itu, menghantam hati Didin. Dia baru menyadari, bahwa konsep hidup yang selama ini dia bangun dan terapkan adalah salah. Dia malu dengan apa yang telah dia lakukannya. Hatinya bergetar bak tersetrum listrik tegangan tinggi.
Sepulang dari pengajian tersebut, Didin terus merenung, memikirkan akan arah tujuannya. “Saat itu yang ada di benak saya, kalau memang kehidupan abadi itu adanya di akhirat, berarti saya harus menyiapkan bekal sebaik-baiknya” jelasnya.
Karena itu, lanjutnya, dia harus berusaha mendalami agama Islam, sehingga kesuksesan abadi itu bisa dia rengguh.
Menentukan Pilihan Hidup
Perang batin antar harus meneruskan keputusan awal untuk sekolah di kepolisian, dengan keinginannya mendalami ilmu agama, benar-benar berkecamuk dalam diri Didin. Namun, dia tidak bisa membohongi hati nuraninya, bahwa ketertarikkannya untuk belajar/kuliah di tempat yang berbasis pesantren, guna mendalami agama, lebih kuat dari pada minat untuk meneruskan sekolah di kepolisisan.
Akhirnya, dengan mendapatkan arahan demi arahan dari sang-ustadz, Didin pun memutuskan untuk memindahkan haluannya, dari sekolah kepolisian, menuju sekolah/perkuliahan yang berbasis pesantren. Akan tetapi, ketika Didin menyampaikan minatnya, mayoritas keluarganya menentang, tak terkecuali kedua orangtuanya.
Alasannya beragam. Mulai dari jaminan hidup berkecukupan di masa mendatang yang tidak jelas kalau masuk pesantren, hingga kekhawatiran Didin menjadi teroris karena belajar di sana. Maklum, saat itu, informasi tentang pesantren dicitrakan buruk di masyarakat. “Jadi, titik berat mereka, takut kalau saya menjadi anak yang durhaka, karena di pesantren diajarkan tentang terorisme”, lanjut Didin.
Akan tetapi, setelah berusaha menjelaskan dengan sedetil-detainya akan pesantren dan tujuan utamanya melanjutkan kuliah di sana, keluarganya pun mulai membuka hati. Bahkan, untuk meyakinkan bahwa di tempatnya kelak tidak ada ajaran yang berunsur teror, Didin pun mengajak kedua orangtuanya menghadap pengurus, guna mempertanyakan materi-materi apa saja yang akan ‘disantap’ oleh para maha santri, selama menuntut ilmu di sana.
Setelah mendapat penjelasan dari para pengurus, semakin mantap lah kedua orangtuanya mnyetujui Didin untuk melanjutkan studinya di kampus yang terletak di kota pahlawan, Surabaya tersebut.
Saat ini, Didin tengah duduk di semester pertama. Meskipun dia adalah satu-satunya maha santri yang paling awam bacaan al-Qur’an nya, namun dia tidak pernah malu. Yang ada dia justru lebih terpacu untuk giat belajar guna mengejar ketinggalannya.
“Didin merupakan sosok pribadi yang semangat dalam menuntut ilmu. Dia tidak malu untuk bertanya pada siapa saja, sekali pun yang dia kaji adalah kitab mengaji tuntunan anak-anak TK, Iqra, berbeda dengan teman-temannya yang lain, yang mayoritas sudah lancar membaca Al-Qur’an”, ujar Iqbal, salah satu pengurus pesantren, mengomentari kepribadian Didin. Semoga diberkahi dan diberi kemudahan dalam menuntut ilmu. Aamiin.*