Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Catatan Seorang Mahasiswa yang Merindukan Tanah Air Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Mei 2012 09:41 9:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Mei 2012 09:41
Bagikan
Bagikan

BEBERAPA minggu lagi insya Allah saya akan merampungkan program master bidang studi Islam di tempat yang begitu jauh dari Tanah air. Meski telah lama jauh dari tanah kelahiran, sesekali, saya membuka berita untuk melepas kangen dan rindu akan bumi pertiwi, Indonesia. Maklum saja sudah hampir 8 tahun saya berada di tanah Arab.

Hanya saja, setiap saya membaca berita di media, kegalauan dan kegundahan hati saya sering terus muncul.

Menurut saya, Indonesia hari ini sangat berbeda dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, di mana ketika saya menghabiskan masa kecil di sebuah desa terpencil dengan literatur masyarakatnya yang lemah lembut.

Karena pekerjaan orangtua, saya pernah berpindah-pindah tempat. Bahkan pernah semasa sekolah dasar (SD), saya pindah tiga kali. Tetap saja, di mana tempat saya temui, warga Indonesia orang yang ramah.

Catatan ringan ini bukan untuk cerita masa kecil, melainkan ingin memotret negeriku sayang saya banggakan, yaa….dialah Indonesia. Sebuah bangsa yang bukan sekedar suku, ras atau golongan tertentu dan pada satu golongan saja.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Entahlah, setiap saya membaca berita di media, selalu yang disajikan membuat dahi ini mengkerut dan membosankan. Tapi itulah, tiap hari yang say abaca tetang Indonesia bukan berita-berita yang menggembirakan. Mengapa ya, media kita masih memakai teori kuno berbunyi, “A Bad News is a Good News”. Saya sebenarnya merindukan sisi-sisi menarik negeriku yang patut dibanggakan. Dan saya yakin, itu sangat banyak.

Percaya tidak percaya, memang fenomena demi fenomena itu hadir menghiasi hari-hari kita, fenomena para elit, kisruh Pilkada, tawuran antar warga, tawuran antar pelajar dan mahasiswa, krisis moral, miskin toleransi dan lain sebagainya. Bahkan pelajar atau mahasiswa yang tawuran bisa-bisanya membawa pedang, seperti geng-geng yang saya temukan di film Hong Kong saja. Tapi itulah potret bangsa kita hari ini.

Kadang saya berpikir apakah negeri ini harus hancur-lebur terlebih dahulu, sebagaimana saat dijajah oleh hegemoni Barat puluhan tahun silam? Lalu dengan itu, semua lapisan masyarakat kita dari berbagai unsur bersatu mengusir penjajah atas nama Indonesia tercinta?

Terlalu panjang jika harus bercerita negeri kita –negeri yang menurut saya– sudah mulai banyak kehilangan jati diri dengan keramahtamahannya, lemah lembut dan lain-lain. Paling tidak, saya jadi teringat ucapan nenek yang berpesan sebelum saya menimba ilmu di luar negeri, “Nak, usahakan, jagalah hati orang, jaga jangan sampai kita menyakiti hati orang sedikit pun,” begitu pesan beliau.

Teringat juga pesan Rasulullah betapa pentingnya kebajikan pada orang lain. Nabi mengajarkan murah senyum, ceria di saat bertemu dengan saudara, rekan, kerabat, handai taulan dan orang lain yang belum kita kenal.

Begitu mulianya Islam memanusiakan manusia dengan segala ajarannya yang lurus, tapi saying, kini kita justru banting setir kembali ke zaman primitif. Maraknya kekerasan, perpecahan, kemiskinan yang merajalela ditambah kebodohan.

Saya hanya bisa memandang langit untuk saat ini dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’a, akankah Indonesia lebih baik dan lebih bermakna di hari-hari mendatang, ketika saya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran saya.

Sambil merenung, saya teringat perangai lemah-lembut almarhumah ibunda. Paling tidak, melihat hiruk-pikuk dunia sekarang ini, saya akhirnya bisa menangkap pesan-pesan tersirat yang dulu banyak kami peroleh darinya. Tidak jauh seperti pesan nenek saya tadi. Semoga.

Salam dari Maroko, negeri di penghujung Afrika.*

Ditulis: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Alasan Jamaah Shalahuddin Yogja Tolak Irshad Manji
Tulisan selanjutnya Keteguhan: Rumus Hadapi Gelombang dan Kesulitan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?