Hidayatullah.com–Seperti biasa, Jum’at sore (7/10/2011) lalu, Khairul Amin mengambil krupuk di tempat produksi krupuk milik saudaranya. Krupuk dengan merek Indokrup itu hendak dijualnya ke sejumlah warung langganannya di Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur. Krupuk dagangan Amin cukup banyak. Sekali berangkat saja, ia membawa 60 bal yang perbalnya berisi 10 kantong krupuk. Tak pelak, bagian belakang motornya penuh krupuk. Hanya tersisa sedikit untuknya duduk.
Amin memacu sepeda motornya dengan cepat. Banyaknya krupuk tak menghalanginya menerobos lalu lalang kendaraan sepanjang kota Banyuwangi. Tampaknya, waktu lima tahun, bukan waktu singkat baginya untuk menaklukan jalan raya itu. Pasalnya, setiap sore, ia harus berburu dengan waktu mengantarkan krupuk sebelum warung langgangannya itu tutup.
Beberapa kilo meter, ketika gelap mulai merayap, lelaki lajang 23 tahun ini tiba-tiba menghentikan laju sepeda motornya. Ia berhenti di depan sebuah warung makan. Ia lalu turun dan membuka karung yang berisi krupuk. Diambilnya dua bal krupuk yang berisi 20 bungkus dan dibawa ke dalam rumah makan tersebut.
“Assalamu’alaikum, ibu. Apa kabar?” sapanya penuh akrab.
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah, baik. Antar krupuk, ya mas? tanya ibu pemilik warung makan tersebut.
Amin lalu meletakkan krupuknya di atas meja. Ia lalu meneliti tumpukan krupuk yang terletak di atas meja. Tak ada krupuk miliknya di sana. Dan, itu berarti krupuknya ludes dibeli orang.
“Ini mas, uangnya. Dihitung dulu, kalau-kalau kurang,” ucapnya ibu bertubuh bongsor itu.
“Krupuknya habis, ya Bu?
“Iya, hamdulillah kali ini cukup laris dibanding yang lainnya.”
“Alhamdulillah!” ucap Amin dengan seulas senyum di wajahnya. Ia pun pamit dan melanjutkan perjalanan. Ia starter dan gas sepeda motornya. Dalam hitungan detik, ia telah hilang ditikungan jalan yang gelap gulita. Amin lalu berhenti di masjid untuk shalat magrib.
“Meski masih banyak, tapi kalau waktu shalat datang harus shalat,” ujarnya.
Usai shalat, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia berhenti di sebuah Rumah Makan cukup besar. Banyak orang makan di situ. Dan rata-rata orang the have (berada). Tanpa malu, ia melangkah membawa krupuk. Tak jarang pengunjung melihatnya.
“Waduh, maaf mas. Hari ini libur dulu. Yang kemarin belum habis,” ujar petugas yang berdiri di kasir.
“Iya, pak. Nggak apa-apa, biar lain kali saja sekalian sambil ambil duitnya,” terangnya.
Amin tetap tersenyum. Tak nampak gurat kekecewaan di wajahnya. Sejak pertama berangkat hingga sekarang, ia selalu gembira. Begitu menikmati dan mensyukuri pekerjaannya.
“Belum rezeki. Tapi InsyaAllah ada rezeki lainnya yang lebih besar,” ujarnya kepada situs ini yang menemaninya selama dalam perjalanan.
Pria berjenggot tipis dan murah senyum ini menjadi penjual krupuk ikan ini sejak 2005 lalu, selepas SMA. Ia menjualkan krupuk milik saudaranya. Tiap hari, dari penjualan itu, ia mendapat upah relatif sedikit, yaitu sekitar Rp 20 ribu.
Hal itu dilakukannya untuk bertahan hidup. Pasalnya, Amin dari keluarga tidak mampu. Apalagi ditambah tiga adiknya yang menjadi tanggungannya. Tidak hanya itu, ia juga ingin mewujudkan cita-citanya: bisa mengenyam bangku kuliah.
Ia bingung bukan kepalang ketika pertama kali diterima di FISIP Untag, Banyuwangi. Tak ada uang untuk membayar iuran gedung yang jutaan rupiah itu. Tapi, ia memberanikan diri menghadap rektor. Ia bilang jika punya niat besar belajar. Akhirnya ia mendapat keringanan mencicil.
Bahkan ktika kuliahpun, ia kerap membawa barang dagangannya, krupuk ke kampus.
Alhamdulillah, tak ada teman kampus yang melecehkannya. Sebagian justru dengan mengatakan, “Salut untukmu. kalau saya menjadi kamu, pasti saya nggak bakal tahan.” Bahkan tak sedikit juga di antara mereka ikut membelinya.
Amin berjualan krupuk memulainya dari nol.
Ia harus mencari pelanggan sendiri. Dari warung ke warung ia menawarkan krupuknya itu. Dan tak mudah mencari pelanggan. Kadangkala ia harus menawari lebih dari tiga kali, bahkan ada yang hingga dua puluh kali.
Seperti Kantin di Rumah Sakit Al Huda, ia sempat menawarinya hingga dua puluh kali. Pertama kali ditawari, pemilik kantin bilang, “Nggak dulu, mas”. Kedua kalinya bilang, “Maaf, mas”. Ketiga kalinya bilang, “Lain kali aja, mas”. Ke empat kalinya, “Sorry, mas!”.
Entah karena bosen, kasihan, atau terharu pemilik kantin itu akhirnya mau menjadi pelanggan. Bahkan setiap kali pesan sebanyak 10 bal atau seratus bungkus krupuk.
“Alhamdulillah. Memang semuanya butuh perjuangan. Nggak begitu, ya, nggak makan,” terangnya.
Wilayah garapan Amin tidak hanya di sekitar Banyuwangi. Tapi merambah ke beberapa Kabupaten. Seperti Situbondo, Jember, hingga ke Probolinggo. Hal itu dilakukannya dengan bersepeda motor.
Padahal, katanya, untuk menjangkau Probolinggo bisa memakan waktu sekitar lima jam. Tapi, karena di tempat itu banyak pelanggan dan krupuknya laris manis, ia pun rela sepekan sekali berangkat ke sana.
Tak pelak, untuk daerah seperti Jember dan Probolinggo, Amin pun sering pulang larut malam. Seperti pukul 01.00 WIB. Kadang juga kalau terlalu capek, ia tidur di jalan.
“Ya, kadang tidur di SPBU, kadang di masjid, kadang di warung makan, kadang pula di jala,” katanya. Untung saja selama ini belum ada yang mengggangu.
Amin kini telah menyelesaikan kuliahnya di jurusan administrasi negara. Ia sempat bekerja di bisnis properti. Tapi, itu tak berlangsung lama. Ia prihatin karena hingga saat itu belum ada orang yang sanggup menggantikan pekerjaannya mengantar krupuk ke ratusan pelangganya.
Ia pun kini masih berjualan krupuk. Dan, hingga kini, pelanggannya tak ada yang tahu bila Amin adalah seorang sarjana. Ya, sarjana yang berprofesi sebagai penjual krupuk.
Meski begitu, cita-cita Amin tidak seringan kunyahan kerukupknya. Ia berharap, suatu saat bisa membuka usaha sendiri.
Ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha besar dan bisa melanjutkan kuliah lagi. Ia yakin seiring dengan apa yang dikumpulkannya selama ini hingga cukup untuk modal. Kapan itu?
“InsyaAllah, jika Allah menghendaki. Lebih cepat, lebih baik,” ujarnya pendek.*