Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Pertobatan Seorang Rapper

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Oktober 2012 13:44 1:44 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Oktober 2012 13:44
Bagikan
Bagikan

SAYA dari keluarga Kristen. Sebagai seorang pendeta, ayah keras mendidik saya. Sudah biasa saya dihajar pakai ikat pinggang.

Tapi dari ayahlah saya mendapat tetesan “darah” seni. Ayah mahir memainkan berbagai alat musik. Sedangkan saya sangat suka musik rock. Bahkan saya sempat membuat band. Sebagai seorang vokalis, penghayatan terhadap lagu–lagu yang saya bawakan, ternyata berpengaruh kepada cara berpikir dan gaya hidup saya.

Saya akhirnya terseret masuk ke dunia musik underground, hingga seorang teman memberi saya sebuah buku berjudul “Peta Pemikiran Karl Marx”. Buku kecil berwarna merah itulah pintu awal pencarian jati diri saya. Dari buku ini saya diajari bahwa agama itu candu masyarakat.

Sikap anti agama saya makin kuat setelah membaca buku “Senja Kala Berhala dan Anti Krist” karya Friedrich Nietzhie.

Sekalipun anti agama, saya masih datang gereja. Kalau tidak, saya tidak dapat uang jajan dari Mama. He…he…

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Sikap memilih menjadi atheis juga dilatari fakta pertikaian di internal gereja. Saya melihat agama telah menjadi komoditas bisnis. Pendeta-pendeta hanya menjadikan agama sebagai alat untuk mencari makan.

Dari kekecewaan itu, saya mulai mencari ruang baru dari dinamika pemikiran saya. Beberapa CD Public Enemy dan kutipan lagu Wake Up dari Rage Againts The Machine (RATM) menyentil perhatian saya.

Meskipun RATM bukan band Islam, namun kutipan syair lagu Wake Up (Bangun) seperti benar-benar membangunkan pencarian jawaban dari keresahan saya tentang Tuhan, keadilan dan dunia yang lebih baik.

Lagu yang menceritakan tentang pembunuhan Malcolm X tersebut membuat saya tertarik mengenal sosok Malcolm X. Rasa penasaran terhadap tokoh pejuang hak asasi manusia asal Amerika ini mendorong saya untuk mencari berbagai informasi mengenai kehidupan dia.

Saya belajar banyak dari dia. Dari Malcolm X kemudian saya mengenal Muhammad Ali dan Nabi Muhammad SAW.

Dari salah satu literatur Malcolm, ada satu kalimatnya kepada Muhammad Ali petinju legendaris Amerika yang membuat saya terkesan. Ketika Muhammad Ali mengecam kaum kulit putih yang menindas Yahudi dan orang kulit hitam, Malcolm justru berkata, ”Di Makkah, saya lihat orang bermata coklat, biru, hitam serta berkulit putih, dan coklat semuanya duduk bersama.”

Kalimat yang mengungkapkan kekaguman Malcolm terhadap umat Islam tersebut, membuat saya semakin tertarik dengan Islam.

Suatu ketika saya duduk dengan seorang sahabat SMA yang juga sama-sama Rapper. Sahabat itu bertanya sederhana.

“Richard, kalau Lu doa kemana dulu; ke bapak, ke anak, apa ke roh kudus. Mana dulu yang denger?”

Pertanyaan itu semakin mengeraskan penolakan saya kepada relevansi kekristenan. Di sisi lain saya juga sadar gagasan sosialisme, komunisme hingga atheisme sendiri mulai absurd.

Rasa jenuh itu kemudian saya lampiaskan kepada seorang sahabat sesama anak band di komunitas underground, namanya Arif Saefulloh. Ia sosok yang tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Muslim kendati sedang manggung.

Kepada Arif saya mengutarakan niat saya untuk masuk Islam. Eh, bukan dukungan yang saya peroleh, justru larangan yang saya dapat. Arif tidak menginginkan keputusan saya masuk Islam lebih karena faktor emosional sesaat.

Saya tidak menyerah. Saya menemui teman-teman lainnya dari kalangan komunitas underground yang beragama Islam. Dengan bertempat di pinggir jalan yang berada di Kompleks Perumahan Taman Kartini, Bekasi, saya mengucapkan syahadat di hadapan teman-temannya. Peristiwa itu terjadi tahun 2002 dan yang menjadi saksi saya adalah teman-teman yang memakai baju Sepultura, Kurt Cobain, dan Metallica.* (Diceritakan langsung kepada Bambang S, wartawan Majalah Suara Hidayatullah)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DA’INA: KPK Jangan Ragu “Berjihad” Lawan Korupsi
Tulisan selanjutnya Dr Ahzami: Anak Rohis Jangan Dibiasakan dengan Hal Mubah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Berita
13 Juli 2026 17:00
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?