Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Seorang Guru di NTT Pernah Digaji 15 Ribu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 November 2016 12:39 12:39 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 November 2016 12:39
Bagikan
Lilis Sutikno
Bagikan

IBU LIS, demikian wanita bernama lengkap Lilis Sutikno ini biasa dipanggil. Wanita kelahiran Surabaya, 11 Maret 1969 menulis surat pendek kepada seorang anak kecil yang pernah menunjukkan ‘cahaya kehidupan’ kepada dirinya kala itu.

Surat itu ditujukan pada Yumainia M. Nur, salah seorang murid salah satu sekolah SMP Negeri di Kota Kupang. Surat itu dirangkai dalam bentuk kisah hidup Ibu Lilis.

Yumania M Nur adalah anak gadis seorang ABK Kapal Fery (ASDP) Penyeberangan Bolok-Flores, dan Bolok-Alor, Bolok-Ende, dan dari Bolok ke seluruh penjuru Kabupaten di NTT.

Gadis Pontianak yang cantik jelita, cerdas mempesona menjadi petunjuk awal Lilis mengabdi di Kota Karang. Dengan kepolosan dan kecantikan yang luar biasa hingga kini terpancar kecantikan itu dari senyum manisnya, Yumainia.

Senyuman yang selalu Lilis rindukan setiap saat mengenang perjalanannya hingga menjadi guru di Kupang – NTT.  Jalur awal mengabdi menjadi guru ini, berawal  dari lisan mungil gadis cantik yang disebutnya ‘luar biasa’ itu. Informasi tentang pekerjaan tidak ia dapatkan melalui media cetak maupun elektronik . Tetapi melalui lisan mungil Yumainia.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Ketika itu Yumainia berujar; “Tante Lilis……, tante itu kan sarjana pendidikan dari Jawa dari Kota Surabaya lagi, Kota Pahlawan. Kenapa Tante Lilis tidak mengajar saja?” Tanya Yumainia.

Belum sempat dijawab Lilis, Yumainia kembali bercerita:

“Di sekolah aku tidak ada guru PMP-Kn, saat itu PPKn bernama PMP-Kn (Pendidikan Moral Pancasil dan Kewarganegaraan) daripada  tante berjualan rempeyek kacang dan jalan kaki sampai ke Pelabuhan Tenau sana. Tante masukkan lamaran kerja tante nanti saya bicara sama Kepala Sekolah saya. Kepala Sekolah saya orangnya baik banget tante. Kebetulan saya akrab dengan kepala sekolah karena sering prestasi di sekolah,” begitu cetus polos gadis asal Pontianak yang putih dan cantik luar biasa ini.

Penuturan polos gadis cantik inilah yang kelak menjadikan Lilis tergerak menjadi guru di SMP Negeri 8 Kota Kupang-NTT.

Ketika itu kepala sekolahnya bernama Benyamin Malelak. Awalnya, ia hanya iseng memasukkan lamaran kerja di sana. Takdir Allah berkehendal lain. Ia diterima. Sempat pula awalnya ragu, sebab gaji yang dia terima hanya Rp.15.000 saja.

“Kalau dipikir-pikir tak seberapa gaji untuk keperluan rumah tangga,” ujar Lilis. Tetapi semua dihadapinya dengan tegar. Sambil mengajar, pekerjaan lama tak ia tinggalkan.

“Ketika itu, saya berjualan rempeyek kacang penghasilan saya lebih dari Rp.15.000 seminggu, dan menjadi guru sebulan di gaji hanya Rp.15.000 saja. Apa cukup?” begitu bayangannya.

Alhamdulillah, keajaiban senantiasa datang bersama orang-orang yang qana’ah.

“Alhamdulillah, semua terpenuhi dengan penghasilan tambahan berjualan rempeyek, “ aku Lilis.

“Karena aku teringat pesan Bapak/Ibu waktu di Jawa dulu, apapun resikonya Bapak dan Ibu ingin kamu menjadi guru, nduk,” ujar Lilis mengenang pesan kedua orang tuanya.

Wanita “Penjaga Al-Qur’an” dari Kupang

Wanita berjilbab ini menyebrang dari Surabaya menuju Kupang layaknya orang perantauan. Bekerja apa saja, bahkan berjualan rempeyek di jalaninya. Itu semua tanpa sepengatahuan kedua orang tua dan keluarganya di Jawa. Padahal, di Jawa orang tuanya telah memiliki lembaga pendidikan rintisan.

“Saya berjualan rempeyek kacang saat itu, orang tua saya tidak tahu keadaan saya di rantauan. Jika mereka mengetahui keadaan saya saat itu, pastilah saya dipanggil pulang untuk melanjutkan sekolah yang dirintis orang tua saat itu sebuah yayasan pendidikan swasta di Surabaya,” ujarnya sambil sesekali meneteskan air mata mengingat masa sulit yang dialaminya.

Merantau tidak seenak yang dibayangkan. Ia berjualan di Kota Karang (nama lain Kota Kupang) dengan berjualan keliling kampung, hingga sampai Pelabuhan Tenau. Dagangannya ia titipkan kepada orangnya Yumania M Nur, seorang ABK Kapal Fery.

Di masa sulit itu, pernah ia tak dapat penghasilan apa-apa saat menjajakan jualan. Ia bahkan mengaku sempat makan nasi basi yang di cuci dan di kukus ulang.

Meski demikian Lilis tetap bersyukur, karena Allah Subhanahu Wata’ala memberi sedikit terpaan dan ujian yang dahsyat dalam hidupnya. Akibat ‘terpaan pendidikan’ langsung dari Allah itulah ia kini mengaku  lebih tenang dan lebih kuat menjalani hidup. Ia yakin   setiap detik dalam hidupnya adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh Allah bagi kebaikannya.

“Selalu ada Allah dalam segala apa yang direncanakan,” ujarnya.

Alhamdulillah, semuanya telah berjalan lebih manis, akunya. Semanis senyum Yumainia, muridnya, di SMP Negeri 8 Kota Kupang, yang membuatnya telah menemukan ‘cahaya’ hidup.

Kisah Polisi Kubar Jadi Guru Mengaji

Setelah mengajar di SMP Negeri 8 Kota Kupang ia diminta oleh Dinas Pendidikan setempat untuk mengajar di SMP Negeri 2 Kota Kupang. Alhamdulllah, digaji  sebagai guru honor naik sebesar Rp.25.000.

Dari pengabdian selama 5 tahun ia di angkat secara otomatis menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan 125 guru lain, termasuk 11 guru dari SMPN 2 Kota Kupang . Karena kekurangan guru di NTT, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengeluarkan kebijakan untuk mengangkat guru yang mengabdi 5 tahun atau lebih untuk menjadi Guru di NTT.

Kini, Lilis mengaku telah mendapatkan banyak keberkahan dari gaji Rp. 15.000 nya. Ia mengaku, berkahnya  sudah melebihih berkali-kali lipat. Bahkan dirinya mengaku sudah menunaikan kewajiban ibadah haji beberapa tahun silam.

Saat ini, Lilis ditempatkan  di SMP Negeri 2 Nekamese, Desa Besmarak, Kabupaten Kupang – NTT.

Tak henti-hentinya rasa syukur yang dilantunkan Lilis kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan Nya. Karena Allah Subhanahu Wata’ala diakui Lili telah mempertemukannya dengan ‘malaikat cantik’ yang membuat dirinya dan kedua orang tuanya di Jawa merasa bangga menjalani hidup.

“Terima kasih ya Yumani,” ucap Lilis dalam sebuah surat kecil yang ditulis di dinding Facebook nya.

“Semoga bisa menginspirasi. Teruslah berjuang! Sesungguhnya hidup itu adalah perjuangan, ” tulis Lilis.*/Abu Zain Zaidan (Kupang)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anak buah kapalKapal FeryKota KarangKota KupangLilis SutiknoNTTNusa Tenggara TimurPegawai Negeri SipilSeorang Gurusurat pendek
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Indonesia dan Kerukunan Antar Umat Beragama
Tulisan selanjutnya MTW: Aksi Damai 411 Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?