Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Membina Iman di Kota Tepian

Status PNS ditanggalkan demi menjadi seorang da’i. Inilah suka-dukanya berdakwah di Kota Tepian Samarinda

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 November 2024 22:33 10:33 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 November 2024 22:33
Bagikan
Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Ilustrasi
Bagikan

Hidayatullah.com – Siang itu sinar matahari cukup menyengat. Muhammad Tang menyusuri Sungai Mahakam untuk memenuhi undangan pengajian di Desa Muara Pantuan. Bagi pria ramah ini, sebenarnya tugas dakwah ke Muara Pantuanbukanlah hal baru.

Daftar isi
  • Membina Penjara
  • Sekolah Unggulan
  • Tanggalkan Seragam PNS
  • Pimpinan Pesantren
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

“Saat belum ada DPC (Hidayatullah), secara rutin saya ke Muara Pantuan. Kadang menggunakan perahu klotok (sarana transportasi sungai Mahakam) selama 1,5 jam,” cerita ayah tiga anak ini.

Sungai Mahakam adalah ikon Bumi Etam, Kalimantan Timur, dengan ibukota provinsinya Samarinda. Kota Tepian Samarinda sendiri memiliki penduduk lebih kurang 600.000 jiwa, dengan luas wilayah 718 Km2.

Hingga kini, Muhammad Tang secara istiqamah melakukan pembinaan iman bagi penduduk yang tinggal di bantaran Sungai Mahakam dan pedalaman. la telah mampu membangun sarana dakwah di bilangan Sempaja. Meskipun demikian, pria ramah kelahiran Bone (Sulsel) tahun 1964 ini selalu mengaku “belum berhasil” dalam berdakwah.

Membina Penjara

Geliat dakwah Muhammad Tang terus mengalir bagaikan riak air Sungai Mahakam yang mengaliri kota dan desa. Berbagai lapisan komunitas ummat dijangkaunya. Mulai dari kalangan intelektual perkotaan di kampus-kampus perguruan tinggi, karyawan perusahaan di sekitar Samarinda dan Kutai Kertanegara, sampai masyarakat kalangan bawah. Namun cukup berkesan adalah touring (penjelajahan) dakwah di Rutan Sempaja, Samarinda.

Baca Juga

Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena
Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

Di balik tembok penjara yang tak bersahabat itu, Muhammad Tang menuntun dengan tekun para napi untuk belajar huruf demi huruf hingga akhirnya bisa melafadzkan ayat-ayat suci dalam Al-Qur’an “Saya terpanggil untuk mengajari mereka dengan metode Grand MBA (Gerakan Mengajar dan Belajar Al-Qur’an) yang dicetuskan Hidayatullah,” kata lelaki yang pernah mengajar di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan ini mantap.

Berkat pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui sentuhan sang ustadz, beberapa narapidana (napi) yang tadinya buta huruf Al-Qur’an kini sudah melek (terbuka matanya). Ada beberapa “alumni” sebelum habis masa tahanannya menyampaikan terima kasih, karena justru di dalam penjaralah mereka bisa membaca Al-Qur’an. Perlu kesabaran ekstra untuk menuntun para napi belajar Al-Quran. Rata-rata usianya sudah paruh baya. Latar belakangnya pun kebanyakan dari dunia hitam. Namun tetap saja ada yang mengagumkan bagi Muhammad Tang.

Ada seorang napi yang sudah lanjut usia, berkali-kali dituntun dan diajari tapi sampai saat ini belum juga bisa membaca. “Saya sedih sekaligus kagum. Sedih karena sudah sekian lama diajari namun belum kunjung paham. Namun demikian saya kagum dengan usahanya yang tak kunjung jemu,” katanya.

Menurut M Riza Aliyafi, Staf Pembinaan Mental Keagamaan Rutan, untuk angkatan pertama ada 30-an napi yang mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. Sebelum dimulai angkatan kedua, secara rutin pihak rutan melaksanakan pembelajaran Al-Qur’an kepada 130-an napi yang langsung diasuh oleh petugas rutan sendiri. Para napi tampak antusias mengikuti program tersebut.

“Kami menjalin kerjasama dengan Hidayatulah Samarinda untuk pembinaan spiritual para narapidana. Setiap Jum’at, khatibnya dari Hidayatullah,” imbuh Aliyafi.

Sekolah Unggulan

Selain geliat dakwah yang tak pernah surut, Muhammad Tang juga menyimpan obsesi mulia. Yaitu menghadirkan pendidikan Islam yang berkualitas di Samarinda.

Menurutnya, Samarinda adalah salah satu kota pelajar di Indonesia. Di wilayah Kaltim, Samarinda adalah kiblat bagi pelajar yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Selain ada Universitas Mulawarman, juga ada beberapa perguruan tinggi swasta di Kota Tepian.

Obsesi itu pula yang mendorong Muhammad Tang menempuh pendidikan S-2 Jurusan Manajemen Pendidikan di IAIN Antasari Banjarmasin. la ingin Hidayatullah Samarinda segera memiliki sekolah unggulan, mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi.

Di kampus Pesantren Hidayatullah Samarinda yang luasnya 3,5 hektar, kini berdiri masjid dua lantai yang pembangunannya menghabiskan dana sekitar Rp 2,5 milyar. Selain bantuan dari Pemerintah Kota senilai Rp 1,7 milyar melalui Walikota H. Achmad Amins (yang juga merupakan Pembina Hidayatullah Samarinda), juga ada kucuran dana dari Pemerintah Provinsi. Sisanya merupakan swadaya yang dihimpun dari kalangan pengusaha, pejabat, dan masyarakat yang terpanggil memberikan konstribusi.

Sebelum pembangunan infrastruktur pendidikan rampung, maka masjid akan menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat kajian keislaman. “Kami memprogramkan nantinya akan ada kajian intensif di masjid ini untuk kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Kampus Hidayatullah yang bersebelahan dengan kampus Universitas Mulawarman dan beberapa perguruan tinggi swasta, sangat strategis untuk melakukan gerakan pembinaan keislaman,” Muhammad Tang optimis.

Tanggalkan Seragam PNS

Perjalanan dakwah Muhammad Tang dimulai ketika dirinya menjadi guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Desa Tanjung Jumlai, Kabupaten Pasir (sekarang Penajam Paser Utara). Saat itu ia mengikuti sebuah pengajian yang diasuh oleh Ustadz Amin Bachrun (almarhum), dai dari Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Materi kajian rupanya mengusik jiwa mudanya.

“Apa yang saat itu saya dapatkan selama tiga hari mengikuti kajian Sistematika Nuzulnya Wahyu, sangat berbeda dengan yang saya dapatkan selama tiga tahun di Pendidikan Guru Agama (PGA),” kenang Muhammad Tang.

Sejak saat itu, semangatnya untuk segera bergabung ke Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggebu-gebu. Namun Ustadz Amin Bahrun justru memintanya agar tetap melakoni tugas sebagai guru di Tanjung Jumlai. Karena semangatnya tak tertahankan, Muhammad Tang secara rutin setiap malam Jum’at menyeberangi teluk Balikpapan untuk mengikuti kajian di Pesantren Hidayatullah yang saat itu mash berlokasi di Karang Bugis, Balikpapan.

Rute Samarinda-Balikpapan itu dijalaninya selama 4 tahun.

Akhirnya Muhammad Tang membulatkan tekad untuk mengabdi di pesantren. Status PNS pun ditanggalkan, agar bisa menjadi da’i dan mengajar di pesantren yang kebanyakan dihuni anak-anak yatim piatu dan terlantar.

Pimpinan Pesantren

Penghujung tahun 2000 atau tiga belas tahun kemudian, Muhammad Tang menggenggam Surat Keputusan sebagai pimpinan Hidayatullah Samarinda. Berangkat dari sebuah niat untuk menjalankan amanah, pria ramah ini menuju ibukota Kalimantan Timur.

Ketika tiba di Samarinda, ia sedikit terhenyak. la mengaku mengalami banyak benturan kultural terkait perbedaan organisasi.

Muhammad Tang mencoba menyiasati kondisi tersebut dengan memperbanyak silaturrahim dan menjalin komunikasi dengan semua pihak. Alhasil simpatisan Pesantren Hidayatullah berasal dari berbagai latar belakang. Sekat-sekat perbedaan pun bisa diminimalkan.

Muhammad Tang menikah dengan Jawiyah RW dalam prosesi pernikahan massal 47 pasang tahun 1991 di Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Suami-istri ini telah dikaruniai tiga orang putra-putri, yaitu Nurul Mahabbah Fajrina, Muhammad Ubaidillah Said, dan Muhammad Nur Ashshiddiq. Semoga Allah SWT melimpahkan semangat jihad kepada mereka, sebagaimana yang dilimpahkan kepada kedua orangtuanya.


Melalui program literasi 1.000 majalah untuk guru ngaji dan da’i, kita semua dapat mendukung para da’i dan guru ngaji dengan memperkuat literasi mereka. Dukungan Anda akan menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang membangun masa depan dakwah yang lebih cerah di seluruh pelosok negeri.

Mari ambil bagian dalam program literasi ini dan bantu hadirkan 1.000 majalah untuk para da’i dan guru ngaji di seluruh penjuru Nusantara.

Dukung gerakan Journalism4Ummah untuk mengangkat suara umat, memperkuat literasi da’i dan guru ngaji, dan mengawal isu keumatan dengan konten yang bermakna, berdampak, dan relevan.
info lengkap: https://bit.ly/3ZQR3ia

Baca juga: Jalan Panjang Dai Tempaan Alam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dai Islamdai pedalamangerakanliterasiHeadlinej4ujournalism4ummahkisah dai
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dianggap Hina Nabi Muhammad, Konten Kreator Agatha of Palermo Dipolisikan 
Tulisan selanjutnya Skandal Spionase di Italia Ternyata Libatkan Mossad ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Mereka Memilih Berani

Kisah Pemimpin Umum Hidayatullah: Ditugaskan Berdakwah ke Irian Jaya

7 Januari 2022 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?