Hidayatullah.com– Tak lama lagi, masyarakat insya Allah bisa melakukan rapid test Covid-19 secara mandiri dengan biaya murah tanpa harus ke rumah sakit (RS).
Harapan itu bisa terjadi, jika alat tes diagnostik cepat (rapid diagnostic test) Covid-19 asal NTB yang akan diproduksi massal berjalan sukses.
Alat ini diberi nama RI-GHA Covid-19, produk dalam negeri Republik Indonesia. Produksinya melibatkan para peneliti dari Universitas Gajah Mada, Laboratorium Hepatika Mataram, dan Universitas Airlangga.
Sehingga, penamaan RI- GHA adalah kepanjangan dari Republik Indonesia-Gadjah Mada, Hepatika Mataram-Airlangga. Penamaan alat ini memang melibatkan pihak-pihak yang terlibat itu.
Informasi dihimpun hidayatullah.com pada Kamis (25/06/2020), Laboratorium Hepatika Bumi Gora, Mataram bertugas memproduksi alat tersebut. Sementara Universitas Gajah Mada dan Universitas Airlangga melakukan uji validasi.
Alat tes cepat Covid-19 ini akan dijual ke pasaran pada Juli 2020 mendatang dengan harga Rp 75 ribu per paket.
Sedangkan menurut Direktur Laboratorium Hepatika Bumi Gora, Mataram, Prof dr Mulyanto, bisa jadi akhir Juni ini alat tersebut diproduksi massal.
Alat rapid test RI-GHA Covid-19 telah diperkenalkan oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Mei 2020.
Pembuatan alat rapid test ini sebagai proyek nasional di bawah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Para peneliti di Indonesia digalakkan membuat alat-alat kesehatan untuk penanganan Covid-19. ”Tim itu dibagi dalam gugus-gugus tugas, ada yang membuat PCR, ada yang rapid test,” ujar Mulyanto kutip Lombok Post, 31 Mei 2020.
Laboratorium Hepatika Mataram dilibatkan pada proyek ini karena dinilai punya pengalaman panjang dalam membuat alat serupa untuk pengujian sejumlah penyakit. ”Kemenristek memberikan dana untuk melakukan inovasi, bukan menemukan lho ya,” ujar Mulyanto.
Dalam proses pembuatan alat ini, Hepatika juga didukung penuh Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram). Banyak tim peneliti Unram dilibatkan.
Atas sinergi dan dukungan semua pihak, alat rapid test yang diminta itu rampung kurang dari sebulan. ”Pertengahan April diberi tugas dan 20 Mei diperkenalkan Pak presiden,” sebut Mulyanto.
Pemerintah pusat mengklaim tingkat akurasi alat itu mencapai 80 persen, berusaha ditingkatkan. Mulyanto memastikan, RI-GHA Covid-19 Rapid Diagnostic Test IgG/IgM telah mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 19 Mei lalu.
Butuh waktu sebulan untuk uji validasi. Akhir Juni ditargetkan sudah dapat produksi secara masal. Awal Juli alat bisa didistribusikan pada skala besar untuk penanganan virus corona.
Sejumlah perusahaan farmasi telah siap memproduksi secara massal alat itu. Kata Mulyanto, RI-GHA Covid-19 sama dengan alat rapid test luar negeri. Kalau mengacu pada standar internasional, tingkat akurasi harus 90 persen.
Di antara keunggulan RI-GHA Covid-19 ini nanti bisa dipakai masyarakat luas. Di satu kotak rapid test disediakan alat lengkap untuk mengambil sampel darah dan diteteskan ke alat tes.
Juga disertakan dengan buku petunjuk cara pemakaian, sehingga mempermudah masyarakat yang mau tes Covid-19 secara mandiri. ”Kayak ngetes kehamilan itu deh,” kata Mulyanto.
Disebutkan, kalau sudah diproduksi massal, Indonesia akan mendapatkan alat tes cepat dengan harga lebih murah. Diketahui, harga alat rapid test impor selama ini kisaran Rp 150 ribu – Rp 250 ribu.
RI-GHA Covid-19 nanti akan dijual dengan harga jauh lebih rendah. Tapi saat itu Mulyanto belum tahu harga jualnya sebab menurutnya bukan kewenangan dirinya. ”Kalau ongkos buatnya saja di bawah Rp 50 ribu,” kata Mulyanto.
Walau begitu, tes harus dilakukan secara benar sesuai petunjuk yang diberikan agar hasilnya akurat.
Menurut Mulyanto, membuat rapid test Covid-19 susah-susah gampang. Di Indonesia, yang sering membuat alat-alat rapid test cuma di Laboratorium Hepatika. ”Yang membedakan dengan rapid test lainnya adalah bahan dasarnya, antibodi atau antigen-nya berbeda,” jelasnya.
Karena Covid-19 jenis baru, sehingga membuat rapid test Covid-19 lebih sulit dibandingkan alat tes cepat untuk penyakit lain.
Menurut Mulyanto, proses pembuatan rapid test Covid-19 sempat terkendala karena mereka kesulitan memperoleh antigen yang memang belum ada di Indonesia. Akhinya harus membeli di Amerika Serikat. ”Sulit karena kita rebutan dengan negara-negara lain,” sebutnya.
Sejumlah peneliti perguruan tinggi di Indonesia saat ini tengah membuat antigen, yang diharapkan kualitasnya bagus, agar pembuatan alat rapid test dipermudah.
Dekan Fakultas Kedokteran Unram dr Hamsu Kadriyan mengaku bangga dengan produk anak bangsa itu. Apalagi saat ini Indonesia sangat membutuhkan alat tersebut.
”Ini bisa menjadi momen kebangkitan produk Indonesia untuk berjaya di negeri sendiri, tidak mengandalkan produk-produk impor,” ujarnya.
Pihaknya pun memberikan dukungan penuh dalam proses pembuatan alat tersebut. Banyak SDM Unram yang ikut terlibat, termasuk Prof Mulyanto adalah dosen di Fakultas Kedokteran Unram.
”Untuk uji awal alat rapid test-nya menggunakan serum positif yang ada di RS Unram,” katanya.* (SKR)