Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

Gangguan Bipolar Picu Bunuh Diri

Ahmad
Terakhir diupdate: 23 Juni 2016 10:18 10:18 am
Ahmad
Dipublikasikan 23 Juni 2016 10:30
Bagikan
mossad bunuh diri
Tugas Negara bukan hanya sekedar mengurusi kesehatan, tetapi juga menjamin serta menjaga akidah dan iman rakyatnya terjaga, hingga tak lagi ada bunuh diri
Bagikan

Hidayatullah.com–Menurut WHO, angka bunuh diri di Indonesia pada 2010 adalah 1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5.000 orang per tahun. Pada 2012 angka tersebut meningkat menjadi 4,3 per 100.000 jiwa atau sekitar 10.000 per tahun.

Secara global, setiap tahunnya, lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri atau 1 kematian setiap 40 detik. Hal ini menempatkan bunuh diri di peringkat ke-5 sebagai penyebab kematian terbesar di dunia.

Dalam seminar “Gangguan Bipolar VS Fenomena Bunuh Diri”, di Jakarta, Rabu, Ketua Seksi Bipolar dan Gangguan Mood lainnua PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia), Dr. dr. Margarita M. Maramis, Sp.KJ(K), mengungkapkan bahwa Gangguan Bipolar menjadi salah satu pemicu bunuh diri.

Gangguan Bipolar merupakan salah satu masalah kejiwaan ditandai dengan perubahan suasana hati antara terlalu sedih (depresi) dan gembira berlebihan (mania) secara fluktuatif dan ekstrim.

Dalam beberapa kasus yang cukup parah, orang dengan gangguan bipolar (ODB) mengalami delusi dan halusinasi (pada episod mania), dan berpikir tentang kematian atau bunuh diri secara terus menerus (pada episod depresi).

Baca Juga

Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru

Sayangnya bunuh diri tidak menjadi isu kesehatan masyarakat. Hal tersebut juga dikarenakan stigma yang melekat pada gangguan jiwa yang menyebabkan orang tidak mencari pengobatan.

“Masyarakat kurang tahu, tapi ada pula yang sudah tahu namun merasa hal tersebut sudah takdir dan tidak perlu penanganan secara medis,” katanya dikutip Antaranews, Rabu (22/06/2016).

Tingkat kekambuhan Gangguan Bipolar mencapai 85 persen selama 5 tahun. Sementara, angka bunuh diri yang disebabkan oleh Gangguan Bipolar mencapai 15 sampai dengan 20 persen, di mana 80 persen ODB pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. dr. Nurmiati Amir, Sp.KJ(K) yang mengatakan bahwa orang dengan gangguan bipolar (ODB) pernah setidaknya melakukan satu kali tindakan percobaan bunuh diri.

“Percobaan bunuh diri lebih sering pada episod depresi dan campuran daripada episod mania,” ujar dia.

“Hypomani (campuran) lebih besar risikonya karena mood depresi tercampur dengan mood mania di mana ODB memiliki energi untuk melukai dirinya sendiri, misalnya meloncat atau mengangkat pelatuk senjata,” sambung dia.

Dokter Nurmiati juga mengungkapkan bahwa biasanya bunuh diri juga sering terjadi di awal penyakit karena ODB belum bisa menerima keadaan diri dan keterbatasan diri.

Selain itu, dia juga menyebut bahwa laki-laki lebih sering meninggal karena bunuh diri daripada perempuan. “Karena mereka lebih berani, misal untuk loncat,” kata dia.

Bunuh diri akibat Gangguan Bipolar juga banyak terjadi di usia muda. Penyebabnya, menurut dokter Nurmiati, karena tertundanya diagnosis Gangguan Bipolar sehingga tertunda mendapat obat stabilisator.

Tidak hanya itu, risiko bunuh diri akibat Gangguan Bipolar juga semakin tinggi jika ODB telah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Data menunjukkan bahwa 56 persen ODB yang meninggal karena bunuh diri pernah paling sedikit satu kali melakukan percobaan bunuh diri.

Lebih lanjut, risiko ODB untuk bunuh diri semakin besar jika ada keluarganya yang meninggal karena bunuh diri, atau menyaksikan tindakan bunuh diri, ataupun memiliki gangguan kepribadian lainnya seperti cemas, agresif dan impulsif, maupun penyakit fisik serius.

Faktor pemicu ODB melakukan bunuh diri diantaranya kehidupan saat anak-anak yang pernah mengalami kekerasan fisik, seksual, verbal ataupun kehilangan orang tua. Tidak hanya itu, stres terhadap kehidupan saat ini juga menjadi pemicu ODB melakukan bunuh diri.

“Harus mengenal faktor risiko. Semakin banyak faktor risiko, semakin besar kemungkinan bunuh diri,” ujar dokter Nurmiati.

“Selain itu, juga harus mengetahui faktor protektor, seperti kuatnya kepercayaan terhadap agama, dan adanya anak juga sering kali menjadi protektor,” tambah dia.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bipolarbunuh dirigangguanKesehatanstress
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 206 Juta Dolar Digelontorkan untuk Promosi Kebencian terhadap Muslim AS
Tulisan selanjutnya Hizbullah Akan Kirim Lebih Banyak Pasukan ke Suriah Bela Bashar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Berita
1 September 2026 09:01
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

19 Januari 2025 17:25
Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?