Hidayatullah.com—Pasien-pasien demensia mengalami fungsi kognitif yang semakin memburuk dan kekuatan fisik yang melemah karena terlalu lama di rumah saja guna mematuhi protokol penanggulangan pandemi Covid-19.
Japan Geriatrics Society dan Universitas Hiroshima mengumumkan temuan tersebut pada hari Rabu (4/8/2020), yang merupakan hasil studi melalui survei online terhadap para manajer panti perawatan jompo dan personel kesehatan lainnya tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap pasien demensia.
“Apabila pandemi berlangsung dalam waktu lama, dampak membahayakan terhadap pasien-pasien demensia akan semakin serius,” kata Shinya Ishii, seorang profesor kedokteran geriatri di Universitas Hiroshima, seperti dikutip Asahi Shimbun.
“Kita perlu mempromosikan program-program yang memungkinkan pasien melakukan latihan fisik di rumah atau menjadikan mereka mudah menemukan penyedia layanan bagi manula,” imbuhnya.
Berbagai kebijakan diberlakukan oleh pemerintah pusat dan daerah di Jepang guna mendorong orang agar mengubah gaya hidupnya demi memutus rantai penyebaran Covid-19. Selain mendesak warga untuk mengenakan masker pelindung hidung dan mulut, di negeri sakura diberlakukan kebijakan yang dikenal dengan 3T, yaitu menghindari tempat tertutup, menghindari tempat keramaian dan tidak melakukan kontak erat atau menghindari tempat yang tidak memungkinkan orang menjaga jarak.
Namun, urusan pengobatan dan perawatan bagi pasien demensia, dalam hal ini di Jepang, menjadi masalah dikarenakan para manula berpenyakit pikun kesulitan beradaptasi dengan norma sosial baru.
Pembatasan, misalnya, berupa larangan keluar dari tempat tinggalnya justru memperparah gejala pada pasien demensia, menurut 39 persen pusat pengobatan dan panti perawatan demensia dan 38 persen manajer panti. Mereka juga mengatakan bahwa termasuk yang terdampak dengan aturan tersebut adalah manula dengan kondisi kepikunan yang sudah parah.
Para pasien yang berada di panti perawatan menunjukkan kondisi mental yang semakin memburuk, lapor survei tersebut. Sebagian pasien bertambah sering mengulang-ulang omogan yang diucapkannya. Mereka tampak semakin tertekan karena tidak diperbolehkan berjalan-jalan di luar panti, dilarang menemui tamu yang menjenguknya termasuk keluarga dan teman-temannya.
Semakin banyak pasien yang kemampuan kognitifnya memburuk akibat terlalu lama “di rumah saja” karena pandemi coronavirus. Kemampuan motorik mereka juga melemah karena tidak ada lagi perawat yang membimbingnya melakukan gerak badan.
Berkurangnya latihan fisik mengakibatkan sebagian pasien demensia kesulitan melakukan aktivitas harian sederhana seperti mengganti pakaian, begitu menurut survei tersebut.*