Hidayatullah.com–Meski Jaringan Islam Liberal (JIL) sudah tidak santer kedengaran lagi namanya, namun #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) tidak pernah kehilangan relevansinya. Demikianlah yang dituturkan oleh Andri Oktavianas pada hari Senin (03/08/2020) saat mengomentari perkembangan pemikiran kontemporer di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia saat ini.
“JIL memang jarang terdengar lagi kiprahnya, namun kerusakan logika yang diusungnya hingga saat ini masih terus-menerus direproduksi, diwariskan dan disebarluaskan,” ujar Koordinator Chapter (Korchap) ITJ Bandung ini.
Para pengikut JIL, menurut Andri, hingga saat ini masih giat bekerja. “Para pengikutnya yang fanatik menjajakan pemikiran Islam liberal itu, boleh dibilang tanpa kenal tempat dan waktu,” ujarnya lagi.
Jika saat ini nama JIL sudah jarang didengar lagi, menurut Andri, itu karena nama tersebut sudah kadung dianggap buruk di tengah-tengah masyarakat. “Meski demikian, tokoh-tokohnya masih saja menyuarakan pemikiran yang sama dari waktu ke waktu. Banyak juga pegiat-pegiat pemikiran generasi baru yang kemudian turut menyuarakan kerusakan logika yang sama, dan kita saksikan sendiri paham liberalisasi agama ini di mana-mana. Mulai dari yang merasionalisasi seks bebas sampai yang melecehkan ulama dan Nabi. Belum lama ini rekan kami, Lewinda Jotari, telah menanggapi sebuah penistaan terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam yang dilancarkan tepat pada Hari Raya Idul Adha. Bayangkan, seorang feminis radikal menuduh beliau telah meninggalkan Hajar dan anaknya supaya mati di padang pasir,” ungkap aktivis yang telah berkenalan dengan ITJ di Kota Padang, sebelum akhirnya hijrah ke Bandung ini.
Pendapat Andri diamini oleh Akmal Sjafril, aktivis ITJ asal Bogor yang juga mantan Koordinator Pusat (Korpus) ITJ. “Kasus disertasi yang menghalalkan zina dari UIN Yogya tempo hari dan penistaan terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam oleh kalangan feminis radikal belum lama ini semestinya membuka mata semua orang bahwa bahaya Islam liberal masih ada, meski JIL memang kelihatannya sedang tiarap,” ujarnya.
Terus berkembangnya wacana Islam liberal meski nama JIL tidak muncul ke permukaan, menurut Akmal, justru menunjukkan bahwa pekerjaan rumah ITJ masih banyak. “Justru sekaranglah ITJ harus tampil untuk mengingatkan masyarakat kita yang mudah lupa ini bahwa Islam liberal masih ada dan mengintai anak-anak kita. Jangan senang melihat kandang macan kelihatan sepi, karena bisa jadi macannya sudah bebas keluar-masuk kandang,” ujarnya beranalogi.
Pada tahun 2020 ini, ITJ telah memasuki usianya yang kedelapan tahun. Sepanjang periode itu, ITJ telah menggelar Silaturrahim Nasional (Silatnas) sebanyak empat kali dan kini memiliki cabang aktif di tiga belas kota. Randy Iqbal, Korpus yang terpilih pada Silatnas bulan Februari 2020 silam di Yogyakarta, adalah orang kelima yang menerima amanah tersebut.*