Hidayatullah.com—Para ilmuwan memperingatkan bahwa fluktuasi kecepatan rotasi bumi dapat memicu gempa-gempa bumi yang merusak di seluruh belahan dunia, terutama di daerah padat penduduk di kawasan tropis.
Roger Bilham, dari Universitas Colorado Boulder, dan Rebecca Bendick, dari Universitas Montana Missouri, mempresentasikan temuan mereka yang dipublikasikan awal tahun ini dalam pertemuan tahunan Geology Society of America pada bulan Oktober kemarin, lapor RT hari Senin (20/11/2017).
Mereka berpendapat bahwa vasiasi sedikit saja dari rotasi bumi, yang akan mengubah masa siang hari menjadi lebih panjang sekitar satu milisekon, dapat menciptakan pergeseran energi di bawah kulit bumi. Teorinya bahwa perlambatan itu menciptakan perubahan bentuk besi solid dan nikel di “inti lebih dalam” bumi, yang kemudian berdampak pada cairan di inti luar bumi yang merupakan lempengan-lempengan tektonik yang membentuk pijakan bagi kulit bumi.
Dampak itu akan terasa lebih besar di lempengan tektonik yang berada dekat kawasan di mana populasi penduduk bumi padat, yaitu di sekitar garis Khatulistiwa (Ekuator), tempat tinggal sekitar 1 miliar orang di bumi.
“Korelasi antara rotasi bumi dan aktivitas kegempaan sangat erat dan menunjukkan akan ada peningkatan jumah gempa keras tahun depan,” kata Bilham kepada The Guardian seperti dilansir RT. “Gempa-gempa besar telah tercatat dengan baik sejak lebih dari seabad lalu dan itu memberikan kepada kita catatan yang bagus untuk dipelajari.”
Studi para ilmuwan itu mengkaji semua gempa yang memiliki kekuatan 7 atau lebih skala Richter sejak dunia memasuki abad ke-20. Dalam kerangka waktu itu, peneliti menemukan lima periode yang memiliki aktivitas seismik lebih besar yang terjadi kira-kira setiap 32 tahun. Penurunan aktivitas terakhir dimulai sejak 4 tahun lalu.
“Pada periode-periode itu, terdapat antara 25 sampai 30 gempa kuat setiap tahun,” kata Bilham. “Di waktu sisanya angka rata-ratanya sekitar 15 gempa besar setahun. Dengan kata lain: bumi memberikan kepada kita waktu lima tahun untuk waspada bersiap-siap menghadapi gempa-gempa yang akan datang.”
Contohnya seperti ini. Pada tahun 2010 terjadi gempa berkekuatan 7,0 skala Richter yang menewaskan lebih dari 100.000 orang di Haiti. Sementara pada tahun 2011 di Jepang, gempa berkekuatan 9,0 skala Richter menimbulkan dampak sampingan berupa gelombang tsumani sehingga tidak kurang dari 18.000 orang tewas dan reaktor nuklir Fukushima porak-poranda. Meksiko dan Iraq, serta Iran, belum lama ini diguncang gempa berkuatan besar dan menimbulkan banyak korban.. Namun, semua itu kemungkinan masih kecil dibanding gempa yang mungkin akan terjadi di tahun depan.
“Inferensinya jelas,” kata Bilham. “Tahun depan kita akan menyaksikan kenaikan signifikan dalam jumlah gempa besar. Kita telah mengalaminya tahun ini. Sejauh ini kita hanya baru mengalami sekitar 6 gempa parah. Kita bisa dengan mudah mendapati 20 gempa dalam setahun mulai 2018.”
Menurut NASA, perubahan musiman seperti El Nino telah menunjukkan bahwa ada pengaruhnya pada rotasi bumi, sementara gempa-gempa besar dapat mengakibatkan pergeseran pada kemiringan aksial planet ini.*